Mari Berbagi Bacaan …

Blogger-23Pagi itu cerah. Matahari sudah tidak sungkan lagi menampakkan diri dengan gagahnya di sebelah timur. Burung-burung pun dengan sombong memamerkan suara indahnya, bersahut-sahutan. Sosok itu baru selesai sarapan nasi goreng yang telah disiapkan sang tuan rumah. Kawan-kawan yang tinggal seatap sudah asyik kongkow-kongkow di teras rumah. Sebuah rumah panggung kayu khas pedesaan. Sudah tiga hari dia di Desa Palilinggihan, Jatiluhur, dalam rangka Farmasi Pedesaan (FarDes). Dia sendiri asyik menulis catatan harian tentang pengalamannya selama dua hari kemarin. Suara gemerisik daun kelapa terdengar jelas. Ada banyak pohon kelapa yang tumbuh mengelilingi rumah panggung tersebut.

Ada sekira 7 (tujuh) mahasiswa farmasi yang ditempatkan di Desa Palilinggihan, empat perempuan dan tiga laki-laki. Mereka sedang menunggu 14 (empat belas) mahasiswa lainnya yang ditempatkan di Desa Curug Apu dan Juntikerak. Hari itu bertepatan dengan hari kemerdekaan, 17 Agustus 1998. Mereka semua akan menuju ke sebuah lapangan luas guna melaksanakan upacara sekaligus menjadi panitia akan kegiatan cerdas cermat dengan peserta anak-anak SD. Kebetulan letak lapangan tersebut memang dekat dengan Desa Palilinggihan. Hingga … suara keriuhan terdengar di kejauhan. Rombongan mahasiswa dari desa tetangga sudah terlihat. Namun ada yang aneh.

Read the rest of this entry »

Masa lalu tidak akan terulang
Waktu tidak pernah bisa dikembalikan
Hanya kenangan yang hanya bisa
Dinikmati melalui gambar dan tulisan

Ingatan sosok itu sudah agak samar kapan terakhir kali keluarga kecilnya berfoto bersama. Bisa jadi karena terlalu sering berfoto dengan gadget sehingga lupa kapan tepatnya. Hal ini bisa diakibatkan oleh sudah canggihnya teknologi gadget yang ada. Namun hal itu dianggap lumrah dan oke … tidak masuk hitungan. Jadi yang dimaksud di sini adalah foto bersama di studio dengan menggunakan jasa fotografer profesional. Nah! Baiklah, dia harus membongkar kembali file-file digital yang ada. Akhirnya dia menemukan foto tertanggal 8 Oktober 2013. Itulah hari dimana sang belahan jiwa berhasil diwisuda setelah tiga tahun berjuang di bangku perkuliahan Teknik Radiodiagnostik Politeknik Al-Islam Bandung. Sudah hampir tiga tahun berlalu.

Blogger-16

Lagi asyik muter2 di Ciwalk, nemu spot bagus. Klik!

Read the rest of this entry »

Jalan-23

Masa lalu itu seperti permainan
Dikenang dan selalu membuat kangen

Lucu juga sebenarnya. Meski sudah 22 tahun tinggal di Bandung, tetap masih saja ada beberapa lokasi yang belum dikenalnya. Sosok itu akhirnya mengakui bahwa Bandung itu keren. Sejarahnya begitu banyak, persis dengan lahirnya beberapa taman dengan tampilan baru nan oke, hasil corat-coret ala kadarnya Kang Emil, sang walikota. Salah satu tempat yang sering dilewati dan ternyata menyimpan sejuta cerita adalah Pasar Cihapit atau Pasar Tjihapit. Jumat pagi (25/3), sosok itu berkesempatan mengunjunginya. Awalnya bingung mencari tempat parkir motor karena memang baru pertama kali mampir, akhirnya dipilihlah tempat yang tidak jauh dari sebuah toko roti modern (Vitasari). Kebetulan karena di sana ada sebuah gang dengan plang resmi dari PD Pasar Bermartabat Kota Bandung, dengan tulisan Unit Pasar Cihapit. Ya, dia baru tahu kalau di sana ternyata ada sebuah pasar.

Read the rest of this entry »

Seorang anak kecil memegang dua buah apel dengan kedua tangannya. Ibunya kemudian datang mendekat, tersenyum, dan bertanya, “Sayang … boleh Mama minta satu?” Si anak memandang ibunya beberapa detik, kemudian dengan cepat menggigit kedua apelnya, bergantian. Melihat hal itu ibunya berusaha menyembunyikan kekecewaan, senyumya telah luntur dari wajahnya. Sampai kemudian si anak menyodorkan salah satu apel yang telah digigitnya tadi kepada ibunya. Dengan sukacita dan senyum ceria, ia berkata, “Ini untuk Mama, yang ini LEBIH MANIS.” Hening. Tidak ada kata-kata yang terucap dari bibir ibunya, kecuali senyum dan bola mata yang berkaca-kaca.

Bangaswi_1

#BloggerBDG bersama Pak Wishnutama

Komunitas/ko·mu·ni·tas/ n kelompok organisme (orang dan sebagainya) yang hidup dan saling berinteraksi di dalam daerah tertentu; masyarakat; paguyuban. Komunitas sastra adalah kelompok atau kumpulan orang yang meminati dan berkecimpung dalam bidang sastra; masyarakat sastra. Itulah pengertian tentang komunitas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang dikutip sosok itu dari KBBI Daring. Pada akhirnya, komunitas semakin mengerucut pada sekumpulan orang yang suka pada hobi atau aktivitas tertentu. Mayoritas mengerucut lagi pada hobi yang sama. Tidak ada sekat di sana. Meski dari latar belakang ekonomi atau budaya yang berbeda, semua anggota komunitas berbaur dan tertawa bersama karena memiliki hobi yang sama.

Read the rest of this entry »

Lagi-lagi foto … memang sukar dilepaskan
Semua (masih) tentang keindahan
Yang dihentikan agar lebih bertahan lama

Honor4C_1

Hasil kamera Huawei Honor 4C dengan fitur All Focus

Ya, berbicara tentang produk bernama foto, adalah berbicara tentang sejarah. Sejarah dari foto itu sendiri maupun tentang sejarah sosok itu. Foto terus bertransformasi menuju ke arah teknologi yang semakin maju. Dari mulai menggunakan sistem cuci foto yang manual di kamar gelap, proses foto polaroid yang mengandalkan cahaya matahari, hingga akhirnya tiba di era foto digital. Akibatnya kamera pun ikut bertransformasi. Dari mulai betapa kamera itu istimewa dan mahal, kini sudah bertengger manis di beberapa gadget bernama smartphone. Istilah pun bergeser dari photography ke smartphonetography. Akan tetapi ini memang istilah dia sendiri sebagai penggemar dunia fotografi.

Read the rest of this entry »

Memindai kembali jejakmu di sekujur tubuh Braga
pada pagi ketika embun baru saja melapisi atas aspalnya
dan halimun putih tipis yang melingkupi bagai sayap bidadari erat mendekap
seperti melihatmu lagi tersenyum menyongsong hangat mentari yang muncul malu-malu
kemudian memandangku nanar dengan rindu meluap

~ Amril TG (Puisi Sepanjang Braga dan Seterusnya [II], 2014)

Bandung memang bikin kangen. Siapapun yang pernah ke Bandung pasti akan ada rindu meluap untuk kembali lagi. Begitu pula dengan sosok itu. Lahir dan besar di Jakarta, hingga akhirnya takdir mengantarkannya untuk bisa berkuliah di Bandung. Baru saja menjejakkan kakinya menyusuri jalan-jalan di Bandung, ada azzam yang langsung berteriak di dalam hati, “Saya harus tinggal di sini. Saya ingin berkeluarga dan membesarkan anak-anak di sini.” Itu kisah bertahun-tahun silam yang terus dikenangnya. Dan persis seperti puisi karya Daeng Amril di atas, sosok blogger asli Sulawesi yang kini tinggal di Tangerang, rindu meluap (juga) pada Kota Bandung. Inilah mengapa dirinya juga paham kalau para pemuda asli Bandung juga berat saat harus berkelana ke kota lain. Mereka pada akhirnya akan kembali.

Read the rest of this entry »

Hujan. Basah. Kedinginan. Komplit. Itulah yang terjadi pada hari Selasa lalu, 9 Februari 2016. Sosok itu harus berkejaran dengan waktu menembus hujan yang seolah terus mengerahkan pasukannya untuk menyerangnya dari atas. Kuyup sudah. Tapi janji harus ditepati. Alhamdulillah dia tepat sampai di tempat pakir sebelum pukul 15.00. Dia pun berjalan ke lantai paling atas BTC Mall dengan rasa tidak nyaman pada sepatu dan celananya. Apa daya, semuanya basah. Sampai di Lobby XXI, sudah banyak x-banner tentang film yang akan ditontonnya. Beberapa kru juga hilir mudik dengan kaos hitam bergambar poster film. Sosok itu akhirnya menyapa dan tersenyum pada Raja Lubis, kawan yang mengundangnya.

Dingin yang menusuk dari pakaiannya seperti berkomplot dengan AC ruangan di dalam bioskop, menyerang bertubi-tubi pada dirinya. Film “Dilarang Masuk” persis seperti yang diprediksikan. Semakin membuat dirinya tidak nyaman. Alur yang datar. Kejutan-kejutan munculnya para hantu yang mudah ditebak. Efeknya sederhana saja … cukup dengan hentakan musik. Hingga cerita yang terlalu mengada-ada. Semua (kembali) seperti berkomplot untuk menyerang rasa ‘fun‘ pada sosok itu yang sudah dari awalnya serba menyebalkan. Belum waktu yang diundur dari rencana pukul 15.00 menjadi pukul 16.30. Semua yang ada di film horor inilah yang menyebabkan mengapa dia tidak terlalu suka dengan genre satu itu. Tidak menyenangkan sama sekali.

Read the rest of this entry »

Archives

Blog Stats

  • 394,219 hits
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 7,084 other followers