Posted by: Bang Aswi on: January 26, 2012
Posted by: Bang Aswi on: January 24, 2012
Cerita ini adalah kisah nyata dari sosok itu saat masih duduk di bangku SMU. Nama dan latar belakang cerita sengaja dibedakan plus ditambah bumbu-bumbu dapur untuk menciptakan rasa yang enak dan gurih, eh, bisa dinikmati oleh pembaca. Kalaupun ada kesamaan nama tokoh atau peristiwa, tolong jangan ditanyakan pada pihak keamanan kompleks karena dia tidak tahu apa-apa dan sedang disuruh memanggil tukang sayur yang tadi terlewati begitu saja. Selamat menikmati.
—-Di tempat duduknya, Yoyok mematung. Sudah hampir setengah jam kedua tangannya terus memegangi kepala. Pandangannya seolah-olah kosong. Buku tulis di hadapannya pun seperti hilang. Angin yang berembus dari arah jendela di sebelahnya seperti tidak bisa mengusik lamunannya yang teramat panjang. Angin itu pula yang membuat lembaran-lembaran kertas bukunya bergerak-gerak. Bahkan, suasana kelas yang ramai pun seperti tidak bermakna di telinga dan matanya. Ia seperti berada di dunia lain. Dimana yang ada hanyalah gelap. Pekat. Tetapi bergemuruh.
—-Dalam ruang yang gelap itu, bayangan-bayangan berkelebat di sekelilingnya. Kecepatannya pun berubah-ubah. Beberapa di antaranya membentuk slide-slide bergambar. Layaknya sebuah film yang diputar di gedung bioskop. Menampakkan beberapa episode kehidupannya yang telah lampau. Terutama yang berhubungan dengan sosok yang kini sedang dilamuninya. Sosok perempuan yang berulang-ulang hadir dalam slide-slide itu. Yang kadang tertawa. Kadang melotot. Kadang mencibir. Kadang menjulurkan lidah. Kadang tersenyum, tetapi senyum yang mengejek.
Posted by: Bang Aswi on: January 19, 2012
Lebih baik gagal pada sesuatu yang kita cintai daripada berhasil pada sesuatu yang kita benci
Sudah berapa kali kamu ikut lomba? Dan sudah berapa kali kamu menang? Apakah kamu mengikuti lomba hanya bertujuan untuk menang? Ataukah kamu mengikuti lomba hanya sekadar mengasah kemampuan yang kamu miliki dan hanya sekadar bisa berpartisipasi untuk meramaikan event lomba yang bersangkutan? Jangan-jangan kamu termasuk orang yang tidak pernah mengikuti lomba karena faktor malu, minder, tidak ada guna, atau berpendapat: Itu, kan, hanya untuk orang-orang yang gila hadiah dan ingin narsis saja!
Apapun niatnya, tiap orang berhak untuk mengikuti lomba atau bahkan berhak untuk tidak mengikuti lomba. Lomba pada hakikatnya hanyalah salah satu sarana yang tidak atau bisa dimanfaatkan demi perkembangan kemampuan kita sendiri. Untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Sosok itu sendiri memanfaatkan lomba menulis sebagai ajang melatih kemampuan menulisnya agar tetap terjaga tiap waktunya dan sekaligus mengasah gaya kepenulisannya agar lebih baik lagi dari sebelumnya.
Recent Comments