Siang di Toko Bangunan

“Nasinya dibungkus atau makan di sini?” tanya ibu penjaga warung. “Dibungkus aja, Bu,” jawab saya. Setelah serah terima nasi bungkus dengan uang, saya pun melangkah keluar. Dua puluh langkah kemudian, saya memasuki sebuah toko bangunan. “Ada gembok?” tanya saya pada penjaga toko setelah sampai di dalamnya. Saya pun langsung disuguhi bermacam-macam gembok. Saya meneliti satu persatu gembok tersebut.

Seorang bapak terlihat capek sekali. Peluh di wajahnya tampak begitu membanjir, mungkin dia baru saja menempuh perjalanan yang cukup jauh atau baru saja berputar-putar mencari sesuatu yang tak kunjung didapatnya. Saat dia masuk, saya pun mencoba tersenyum padanya dengan harapan rasa lelahnya bisa menguap, meski hanya sejentik saja. Namun, dia hanya menarik ujung bibirnya.

Continue reading “Siang di Toko Bangunan”

Menghitung Harga Buku

Saat sobat baraya pergi ke toko buku dan membeli sebuah atau beberapa buku, pernahkah sobat baraya bertanya mengapa buku ini harganya jauh lebih murah daripada buku itu kendati jauh lebih tebal? Mengapa buku ini mahal sekali padahal sangat tipis? Mengapa buku-buku terbitan A selalu berada di bawah angka 50 ribu rupiah sedangkan buku-buku terbitan B selalu berada di atas angka 50 ribu rupiah? Mengapa buku-buku terjemahan lebih mahal daripada buku-buku yang ditulis oleh penulis lokal yang sama-sama ditulis dalam bahasa Indonesia?

Well, ada banyak faktor yang membuat buku memiliki harga yang berbeda-beda. Bahkan, faktor-faktor yang kadang-kadang tidak pernah dipikirkan oleh para pekerja buku–dan sangat dihindari–pun bisa jadi membuat harga sebuah buku menjadi sangat mahal dari perkiraan awal. Misalnya saja keterlambatan proses sebelum naik cetak, kesalahan pada cetakan sehingga harus diulang, atau kesalahan pada sampul buku sehingga harus dibuat jaket.

Continue reading “Menghitung Harga Buku”