Seorang Perempuan Tua Duduk Termangu

—-Panas. Suasana Bandung yang saban hari semakin terik saja. Melepuhkan aspal-aspal. Melelehkan plastik-plastik. Menguapkan keringat-keringat. Mengeringkan genangan-genangan. Mencipta bias fatamorgana pada permukaan jalan. Mencipta angan-angan. Bersama angin yang raib begitu saja. Menghilang. Lenyap. Terembuskan begitu saja. Menjadi ghaib. Kembali lagi menjadi awal. Berputar dan terus berputar. Pada titik yang pada akhirnya kembali menjelma panas.
—-Seorang perempuan tua duduk termangu. Pada lapaknya yang tidak jauh dari lapak-lapak pedagang kaki lima yang banyak berkumpul di pinggir jalan utama. Memenuhi trotoar yang tidak ada lagi ruang bagi pejalan kaki. Lapaknya selalu sepi; yang tampak berbeda jauh dari lapak-lapak lainnya dimana calon pembeli berjubel. Mungkin karena barang dagangannya yang second. Mungkin karena dia hanya perempuan tua yang tidak aktif menawarkan dagangannya. Mungkin karena rezekinya belum datang. Mungkin….

Continue reading “Seorang Perempuan Tua Duduk Termangu”