My First Al-Quran

Republika (Jumat, 11 Maret 2011) — Orang tua mana yang tidak ingin punya anak shalih, berakhlak baik, berkepribadian kuat, santun, dan cerdas? Semua pasti punya cita-cita seperti itu. Semua harapan-harapan terbaik biasanya selalu dilekatkan pada anak-anak kita. Apalagi, keberhasilan membentuk anak yang shalih adalah salah satu jaminan pahala tiada henti meskipun si orang tua telah kembali pada-Nya kelak.

Sayangnya, di era reformasi ini banyak sekali godaan bagi putera-puteri kita. Kita lihat, sarana-sarana informasi tersedia di mana-mana dan sangat mudah diakses. Orang tua seringkali β€œkecolongan” saat anak ternyata secara sengaja atau tidak sengaja melihat, membaca, mendengar, atau menonton hal-hal yang sebenarnya terlarang bagi mereka. Belum lagi masalah pergaulan. Anak memang harus dan butuh berinteraksi dengan lingkungannya. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, justru akan berdampak negatif terhadap perkembangan sosial mereka. Namun, bagaimana bila tanpa sepengetahuan orang tua, di luar sana anak ternyata bergaul dengan teman yang berakhlak kurang baik, jauh dari nilai-nilai Islam, dan hal-hal negatif lainnya?

Continue reading “My First Al-Quran”