Sadar Selamat

Sosok itu tersenyum. Anak berseragam putih-biru yang baru saja dilewatinya menyapa dengan tertawa. Tertawa bersama rekan-rekannya. “Eta nu motor teu make helm, iyeu sapedahan make helm. Araraneh.”

Sosok itu merasa entah. Siapa yang ditertawakan?

Negeri liliput di sini memang aneh. Beberapa peraturan dibuat hanya untuk dilanggar, katanya. Istilah “sadar” baru menjadi kenyataan jika ada petugas. Aksi aneh ini pun yang memunculkan iklan betapa rambu-rambu tidak berfungsi dengan baik kecuali ya, itu … ada petugas yang selalu “stand by”. Wajib helm pun dianggap memberatkan, kendati beberapa helm memang berat.

Sosok itu teringat bagaimana dia bersimbah linu saat ditabrak mobil. Untungnya dia tidak apa-apa akibat kelakuan mobil tak bermoral itu. Sosok itu bersyukur pada Sang Maha yang telah mempersiapkannya dengan peralatan yang lengkap. Sarung tangan, sepatu, dan juga helm. Sosok itu telah sadar keselamatan, bukan sadar hukum atau sadar berlalu-lintas.

Tidakkah kita semua, para warga negeri liliput ini juga harus “sadar”? Sadar yang sebenarnya. Bukan sadar euforia karena takut dikenai pajak paksa di tengah jalan. Tapi sadar diri bahwa kita adalah makhluk yang mudah terluka. Itu saja.[]