Perjalanan Lelah

Seharian ini sosok itu telah melakukan perjalanan yang melelahkan; dengan bersepeda tentunya. Dimulai dari pukul 06.00 hingga pukul 18.00. Jarak 53,2 km pun ditempuhnya selama hari ini. Bisa jadi, inilah tulisan melelahkan yang akan kamu baca.

Continue reading “Perjalanan Lelah”

Perjalanan Entah

Hampa. Sosok itu pun menjelma layang-layang putus. Melayang, dengan arah yang entah. Takdirnya kemudian ditentukan oleh sang angin. Merangkulnya dengan penuh hangat, atau menggulungnya tanpa rasa kasihan. Wusss!

Seekor elang menatap jalang di ketinggian. Seekor tikus pun mengais tidak sadar. Berkelebat dengan kecepatan tinggi, menukik tanpa peduli dengan kehadiran sosok itu. Dan ia pun bergetar cepat saat embusan sayap sang elang menampar. Tak ada rasa tak ada tanda tak ada kata, kecuali hampa. Sosok itu pun menjauh dan meliuk. Melayang kembali, dengan arah yang entah.

* Jika kau merasa sendiri maka berkawanlah dengan angkasa. Keluasannya akan membuat kau merasa dihargai dan dicintai. Jika kau merasa khawatir sombong karena keluasannya maka peluklah awan. Kelembutannya akan membuat kau merasa nyaman dan aman. Dan inilah aku yang mengangkasa dan mengawan. (Bang Aswi)

Perjalanan Membelah Malam

Telah menjadi kebiasaan bagi keluarga kecil kami, untuk berjalan-jalan menikmati Kota Bandung sebagai bagian untuk mempererat hubungan. Berjalan-jalan di sini adalah makna yang sebenarnya, yaitu berkeliling Kota Bandung tanpa harus mampir ke suatu tempat seperti toko buku, toko pakaian, supermarket, atau tempat strategis yang memfasilitasi itu semua. Fasilitas kendaraan yang kami pakai pun sederhana, yaitu hanya sepeda motor dengan kapasitas empat penumpang (berhimpit-himpitan dengan posisi dari depan ke belakang adalah Bintan-saya-Anin-Umi).

Selepas maghrib, kami pun berangkat. Dari perempatan Binong, perjalanan langsung ke arah kanan, yaitu menuju jalan layang Kiaracondong. Di atas jalan ini, kami disuguhi oleh lampu-lampu yang cemerlang, menempel pada kaki-kaki pegunungan yang ada di wilayah barat, utara, dan timur. Bintan dan Anin pun merasa senang, apalagi saat melewati rel kereta di bawahnya dan pemandangan bulan di atas. Di perempatan Antapani, kami berbelok ke kanan, menembus lalu lintas yang lumayan padat. Lalu kami berbelok kiri memasuki Jl. Ars International yang sudah jelek. Lubang besar menganga di mana-mana, sehingga harus memaksa saya berhati-hati. Apalagi, jalur ini termasuk padat sekali sampai memasuki Jl. Ahmad Yani yang langsung diteruskan ke Jl. Cimuncang.

Continue reading “Perjalanan Membelah Malam”