Perhatikan Sekitarmu

Sang gadis cilik mengiba. Embun telah terbit di mata beningnya. Ia tak menjerit, tapi tangisannya begitu nyaring. Sang ibu dengan wajah batu masih asyik dengan bermacam emas di depannya. Sosok itu lalu mengalihkan pandangannya dari toko emas, berlanjut pada baso cuanki. Sang pedagang yang selalu on time pukul 07.30. Belum pedagang kupat tahu yang di depan Toko ABC yang menjadi langganannya.

Waktu adalah sekelebatan cahaya. Kecepatan tinggi yang lurus ke depan, bukan ke belakang. Manusia tak bisa memundurkannya kendati hanya sedetik. Begitu maju dan akan tertinggal bagi yang tidak siap. Kecuali penyesalan tak berujung. Hidup ini begitu rapuh. Sangat disayangkan jika hidup kita di jalan disia-siakan begitu saja. Banyak pelajaran hidup yang terpampang di sana. Apakah lukisan hidup itu hanya sekelebatan cahaya saja?

Sosok itu tak pernah tahu ada pedagang baso cuanki di sudut itu jika sedang mengendarai motor kuningnya. Apalagi tangisan sang gadis cilik di depan toko emas. Lukisan hidup di sekitarnya bak sekelebatan cahaya dari atas motor. Konsentrasi hanya terpusat pada jalan di depannya. Akan tetapi semua itu berubah. Lukisan hidup begitu kentara pada akhirnya. Dan itu hanya bisa disaksikan dari bangku VIP. Bangku bernama sadel sepeda yang tiap hari dinaiki.

Awalnya adalah kesehatan. Sosok itu mencoba beralasan mengapa dia bersepeda. Kalau mengurangi pemanasan global, terlalu jauh. Belum lagi desas-desus HOAX tentang global warming. Baginya cukuplah bahwa dengan bersepeda, kesehatannya jauh lebih baik. Jika orang lain tak peduli, cukuplah dia sendiri menikmati keringatnya dan menebarkan bau sehat. Syukur-syukur kalau satu-dua-tiga-empat orang mau bersepeda juga. Reaksi berantai yang bisa menyegarkan pandangan mata. Tentu saja telinga dengan suara kring-kring-kring.

Lukisan hidup itu begitu nyata. Itulah yang dirasakan sosok itu saat bersepeda. Semuanya begitu jelas. Sosok-sosok manusia dengan beragam kisah. Benda-benda yang terabaikan. Lekukan-lekukan jalan yang begitu menginspirasi. Senyuman sang burung. Bahkan tetesan hujan yang berbaris rapi. Semua itu begitu jelas di matanya. Begitu hidup dari atas sepedanya.

Sangat berbeda jika sosok itu berada di atas motor kuningnya. Lukisan hidupnya begitu blur. Tak jelas dan bahkan tak kelihatan. Menjadi gambar-gambar mati. Lalu tak peduli. Hingga menggeleng saat ada berita, β€œGelandangan itu baru saja mati kemarin karena terserempet mobil.” Dan dia hanya berucap, β€œEmang ada gelandangan di situ?”[]