Tulislah Apa yang Anda Tahu

Salam, naskah cerpen Anda, “Jeritan di Tengah Malam”, telah sampai di tangan saya untuk dinilai. Saya juga sudah membaca surat yang Anda sertakan bersama cerpen itu. Anda katakan bahwa Anda sering merasa tertekan dan terkucil karena tinggal di kota kecil dan bekerja menulis cerita. Saya paham. Kapan pun, menulis adalah pekerjaan yang sunyi. Pastilah sepi rasanya jika Anda satu-satunya orang yang menulis dalam radius bermil-mil. Saya gembira Anda melihat iklan kami di surat kabar, dan saya berharap bahwa ulasan saya terhadap karya Anda akan mengilhami Anda untuk menulis lebih banyak lagi. Sebenarnya, penciptaan cerita itu sendiri merupakan semacam jaminan melawan sepi karena Anda dapat menciptakan tokoh-tokoh yang terlibat dengan Anda. Lalu ketika karya Anda diterbitkan, Anda akan berkomunikasi dengan segala macam orang yang belum Anda kenal. Dalam The Cinderella Complex, Colette Dowling menulis: “Yang memaksa saya mulai menulis adalah, saya tidak ingin lagi sendirian.”

Continue reading “Tulislah Apa yang Anda Tahu”

Menulis Itu Mudah, Berlatihlah

Untuk menjadi seorang penulis sebenarnya mudah, asal ada kerja keras atau usaha. Intinya itu saja, niat dulu dikuatkan karena inilah semangat kita nantinya. Jika sudah ada kerja keras, modal awal untuk menulis adalah membaca. Kita sering melupakan hal ini, padahal ada rumusan taktertulis bahwa jika ingin menulis satu buku maka bacalah 10 buku. Bahkan ada yang mengatakan sampai 20 buku atau lebih.

Selanjutnya adalah siap berkompetisi. Berkompetisi di sini bisa berarti berani mengirimkan karya ke media massa, ke penerbit, atau bahkan dibaca oleh orang lain yang terdekat dengan kita. Bisa sahabat, pasangan, atau mungkin orang yang sangat dipercaya. Sedangkan untuk menulis dari mana, coba mulailah dari menulis tentang yang kita ketahui.

Continue reading “Menulis Itu Mudah, Berlatihlah”

W R I T I N G

Waktu

  • Sebagai salah satu makhluk yang diciptakan Allah, manusia (walau telah dimuliakan dengan nikmat akal dan hati) tetap saja mempunyai keterbatasan. Dan salah satu faktor yang membatasi manusia adalah waktu. Oleh waktu, manusia dilahirkan. Oleh waktu pula, kelak manusia akan menghadapi kematian. Karena dengan keterbatasan itulah, manusia harus cerdas dan pandai dalam mengelola waktu.
  • Waktu berkaitan erat dengan pengalaman. Waktu yang telah lalu, telah menjelma pengalaman. Manusia tidak bisa membalikkan waktu, tetapi manusia bisa belajar dari masa lalu. Manusia bisa belajar dari pengalaman. Bukan hanya pengalaman dirinya sendiri, tetapi juga pengalaman orang lain. Pengalaman orang-orang terdahulu. Pengalaman yang tersurat maupun yang tersirat.
  • Dalam menulis, manusia akan lebih mudah menulis yang sudah pernah dialaminya. Menulis pengalamannya sendiri. “Hanya ada satu sumber yang tersedia sebagai bahan fiksi (tulisan) Anda. Sumber tersebut adalah pengalaman Anda sendiri, kehidupan Anda sendiri, kenangan Anda sendiri, mimpi Anda sendiri, dan imajinasi Anda sendiri,” kata Carmel Bird.

Continue reading “W R I T I N G”