Wajah Peneduh Hati

Sosok itu menunggu. Kerumunan orang seolah takberhenti lewat di depan dan di belakang. Sementara kelebatan masa silam terpampang di depan mata. Saat dia bergelantungan di tengah bus, dikelilingi oleh banyak orang yang senasib. Namun wajah di depannya meneduhkan hatinya. Begitu pula saat sosok belasan tahun itu muncul kembali dari arah sana. Ya, dari arah sana. Masih wajah yang meneduhkan hatinya.

Bus itu penuh sesak, seperti hari biasanya. Hari-hari orang pulang pergi dengan bermacam tujuan. Sosok itu berdiri, takada tempat duduk tersisa. Sosok itu berdiri, meski lelah tetapi dia merasa sangat beruntung karena kepergiannya kali ini tidak sia-sia. Seorang kawan telah menunggu. Dan seorang kawan baru dikenalkan kepadanya. Saat itu, hidupnya seolah berwarna.

Continue reading “Wajah Peneduh Hati”