P3K Harus Ada Nutrimoist

Ada-ada saja yang dilakukan Adik Anin setiap harinya. Perempuan berusia 8 tahun itu memang tidak bisa diam. Banyak orang mengatakan kalau dirinya sangat tomboy, bahkan melebihi kemampuan anak lelaki seusianya. Ada rasa bangga, tetapi sambil geleng-geleng kepala. Pernah pada suatu malam, Adik Anin pulang ke rumah dengan menangis yang tidak biasa. Biasanya memang tidak menangis, dan kalaupun menangis pasti tidak ada suaranya dan cenderung langsung lari ke dalam kamar dan menutup wajahnya dengan bantal. Menangis kali ini sambil sesenggukan. Apalagi dengan posisi tangan dijepit sekuat tenaga. Feeling sosok itu sebagai seorang Abi langsung tahu ada yang tidak beres pada ketiaknya. Benar saja. Darah mengucur deras dengan luka menganga cukup besar. Malam itu Adik Anin pun langsung dioperasi di Ruang IGD.

Pada hari lain, Adik Anin masuk ke rumah dengan meringis, dan jalan agak pincang. “Kenapa?” tanya sosok itu langsung. “Jatuh,” jawabnya. Sosok itu pun langsung melihat lukanya. Tidak terlalu parah, tapi banyak luka yang harus segera dibersihkan dan diberikan semacam obat merah. Ini yang paling tidak disukai Adik Anin. Ada saja alasan agar tidak diberikan obat merah. “Udah! Udah gak sakit. Udah sembuh, kok!” katanya sambil mencoba melarikan diri. Demi kebaikan dirinya, tentu pemberian obat merah harus cepat dilakukan agar tidak terjadi infeksi. Atau pernah saat bersantai di depan TV, sosok itu tidak sengaja melihat ke bagian kaki Adik Anin. Ada luka di sana. “Itu kenapa?” Adik Anin malah nyengir, “Kena kenalpot, kemaren.” Sosok itu hanya menggeleng-gelengkan kepala.

Continue reading “P3K Harus Ada Nutrimoist”