Ketika Sosok Itu Marah

Sosok itu sempat tertegun. Tertegun pada sebuah pertanyaan sederhana. Sang pasangan jiwa bertanya, β€œPernahkah Abang marah yang amat sangat?” Ya, kapan terakhir dia marah? Marah yang sebenarnya tentu saja. Marah yang diikuti oleh tindakan fisik, mungkin. Sosok itu merenung. Sudah terlalu lama dia tidak marah (yang sebenarnya). Sudah lupa bahkan, dan teringat kembali pada obrolan beberapa malam lalu.

Marah yang paling diingatnya adalah ketika orientasi siswa pengenalan kampus atau biasa dikenal ospek, tahun 1994. Pada masa itu, ospek masih tergolong keras. Apalagi bagi ITB. Kalau kulit belum terluka dan mengucurkan darah, kayaknya masih ada yang kurang. Ini untuk kaum laki-laki, ya. Jadi, meskipun sosok itu mengambil jurusan Farmasi yang notabene mayoritas perempuan, ospeknya tidak menjamin tidak keras. Dan di sinilah kemarahan yang luar biasa dari sosok itu menemukan muaranya.

Continue reading “Ketika Sosok Itu Marah”