Ice Age: Ini Dufan Kami

Es, di mana-mana hanya es
Biru, dingin, dan … membeku
Bercampur aduk di dalam kegelapan
Kegelapan zaman es

Dinding batu itu terbuka lebar. Itu sebuah pintu menuju perut bumi! Hawa dingin menyeruak keluar dan tiba-tiba … orang-orang prasejarah keluar dan menari. Ya, menari. Mereka tampak senang dan bahagia menerima kedatangan sosok itu. Tubuh ini menggigil, tidak hanya oleh dinginnya udara yang menurun drastis tetapi juga oleh aura jutaan tahun lalu saat planet Bumi masih berusia muda. Awalnya ragu, tapi akhirnya gerbang itu dimasuki juga dan terpampang sebuah goa yang menakjubkan dengan dinding es yang eksotis. Tidak terlalu gelap karena masih ada cahaya remang-remang di sana. Di ujung goa yang berliku, cahaya matahari sesaat menyilaukan pandangan. Ternyata ada jalan lain keluar goa. Jalan setapak yang mendaki, dengan pohon-pohon zaman prasejarah, dan juga pemandangan pintu goa yang terlihat di bawahnya. Melewati jembatan, hingga akhirnya memasuki goa lain di atasnya. Gelap. Hingga akhirnya sampai di sebuah bebatuan dengan pohon berlubang di sana.

Continue reading “Ice Age: Ini Dufan Kami”