“Waktu itu seperti biasa saya melewati jalan itu. Anak-anak berseragam putih merah bergerombol di beberapa titik. Rata-rata mereka berkumpul di depan pedagang yang produknya memang sangat diinginkan. Bisa mainan, bisa makanan, dan bisa juga minuman. Bahkan, ada juga pedagang hewan-hewan kecil semacam keong, hamster, ayam atau burung yang diwarnai. Para pedagang itu senang jika anak-anak berkerumun. Jauh lebih senang lagi kalau ada di antara mereka membelinya. Anak-anak pun begitu. Mereka senang dapat melihat dan memegang apa yang diinginkannya. Yang tidak memiliki cukup uang, sudah merasa puas dapat memegangnya. Sebuah rutinitas biasa di depan gedung sekolah. Jajanan SD begitu menggoda, bahkan oleh mereka yang tidak lagi SD.”
Di sebuah sekolah dasar di daerah Cempaka Putih sosok itu mendengarkan cerita. Tubuh orang yang bercerita sedang, dengan tinggi sekira 165 cm, tidak terlalu kurus. Rambutnya boleh dibilang minimalis, tetapi tidak botak. Kulitnya hitam, meski tidak legam, bukti bahwa dirinya sering berpanas-panasan di tengah kota Jakarta yang makin menerik. Kang Zurlen, begitulah sosok itu memanggilnya. Beberapa rekan sejawat memanggilnya dengan sebutan Mas atau Pak. Gerak-gerik tubuhnya tampak gesit, tipe orang yang tidak mau tinggal diam dan lebih memilih melebur bersama siapa saja yang ingin mengobrol dengannya. Ia pun begitu antusias bercerita pada sosok itu.