Pelarian yang Entah

Aku terus berlari. Tidak peduli dengan tatapan heran orang-orang. Mereka tidak tahu apa yang terjadi padaku. Dan aku yakin kalau mereka juga tidak peduli. Biarlah dunia ini menjadi milikku dan mereka. Tetapi duniaku terpisah dari dunia mereka.

Aku menjerit. Dialog batinku berakhir pada kata ‘Mama’. Mama tidak boleh tahu. Tidak boleh! Aku menangkupkan diri pada badan jalan. Menangis dan meratap. Orang-orang berhenti. Bertambah ramai. Dan berkerumun. “Apa!” teriakku pada mereka. Aku berdiri dan berlari lagi. Menyeruak dan memukul, agar bisa diberi jalan. Terus berlari. Sejauh-jauhnya.

Continue reading “Pelarian yang Entah”