Karatsu: Sebuah Prolog

Sosok Itu di Jepang

Yuume o mukate jitsugen kudasai.
Genggamlah dengan erat mimpimu,
lalu wujudkan dengan kerja keras.
~ Bang Aswi

Asa mimpi! Ya, itulah dua kata yang terus berdengung di dekat telinga. Tidak percaya. Sampai sekarang, perasaan tidak percaya itu masih bersemayam. Padahal dua minggu yang lalu sosok itu belum punya paspor. Masih ada kebingungan saat dirinya masih di Sulawesi dan diminta segera menyerahkan paspor. Bagaimana mau menyerahkan kalau punya paspor saja tidak? Bahkan, kepergiannya ke Sulawesi juga bagai mimpi dan terjadi begitu ajaibnya. Takdir Sang Maha tengah bekerja di luar rencana-rencana fananya. Semua bergerak cepat, sosok itu berkejaran dengan waktu. Alhamdulillah jalannya dipermudah. Urusan di Sulawesi beres dan bahkan menjadi bagian dari The Best Team bersama Kang Ade Truna dan Mas Ali Muakhir. Paspor beres dan visa pun tuntas.

Continue reading “Karatsu: Sebuah Prolog”

Mau Ngapain di Karatsu?

Bicara soal Jepang, masyarakat Indonesia jelas tidak bisa lepas dengan mereka. Sejarahnya sudah tercatat. Ditambah kedigdayaan mereka untuk bangkit dan akhirnya menjadi salah satu negara maju di kawasan Asia. Baik secara ekonomi hingga akhirnya juga di bidang kebudayaan. Oleh karena itu sosok itu juga terikat secara budaya dengan Jepang. Jangan ditanya, deh, masa kecilnya. Hampir semua film yang terkenal dari Jepang dibabat habis. Mulai dari Megaloman, Lionman, Voltus V, Gaban, Sariban, Godsygma, dan lain-lain yang masih menggunakan teknologi video betamax. Hingga akhirnya mengenal Doraemon, Ksatria Baja Hitam, dan Saint Seiya setelah masuknya TV swasta yang menggunakan decoder pada era 80-an. Gimana nggak dekat?

Bagaimana dengan sekarang? Masih. Film-film baru bermunculan dan makin canggih teknologinya. Bahkan, sosok itu berani mengatakan bahwa teknologi animasi film-film Jepang jauh lebih bagus daripada produksi Hollywood. Sebut saja Totoro, Howl’s Moving Castle, atau Garden of Words. Komik-komik juga dilahapnya satu persatu. Yang paling digemari adalah Kungfu Boy, Eye Shields 21, dan Blade of The Immortal. Semua budaya itu merasuk sampai ke hati, maka takheran kalau sosok itu suka dengan hal-hal yang berbau animasi. Pekerjaannya sekarang juga agak menyerempet ke arah sana, yaitu dunia perbukuan. Desainnya secara tidak langsung terpengaruh oleh karya-karya animasi Jepang. Salute!

Continue reading “Mau Ngapain di Karatsu?”