Narkoba : Berawal dari Rokok

“Waktu itu seperti biasa saya melewati jalan itu. Anak-anak berseragam putih merah bergerombol di beberapa titik. Rata-rata mereka berkumpul di depan pedagang yang produknya memang sangat diinginkan. Bisa mainan, bisa makanan, dan bisa juga minuman. Bahkan, ada juga pedagang hewan-hewan kecil semacam keong, hamster,  ayam atau burung yang diwarnai. Para pedagang itu senang jika anak-anak berkerumun. Jauh lebih senang lagi kalau ada di antara mereka membelinya. Anak-anak pun begitu. Mereka senang dapat melihat dan memegang apa yang diinginkannya. Yang tidak memiliki cukup uang, sudah merasa puas dapat memegangnya. Sebuah rutinitas biasa di depan gedung sekolah. Jajanan SD begitu menggoda, bahkan oleh mereka yang tidak lagi SD.”

Di sebuah sekolah dasar di daerah Cempaka Putih sosok itu mendengarkan cerita. Tubuh orang yang bercerita sedang, dengan tinggi sekira 165 cm, tidak terlalu kurus. Rambutnya boleh dibilang minimalis, tetapi tidak botak. Kulitnya hitam, meski tidak legam, bukti bahwa dirinya sering berpanas-panasan di tengah kota Jakarta yang makin menerik. Kang Zurlen, begitulah sosok itu memanggilnya. Beberapa rekan sejawat memanggilnya dengan sebutan Mas atau Pak. Gerak-gerik tubuhnya tampak gesit, tipe orang yang tidak mau tinggal diam dan lebih memilih melebur bersama siapa saja yang ingin mengobrol dengannya. Ia pun begitu antusias bercerita pada sosok itu.

Continue reading “Narkoba : Berawal dari Rokok”

Cegah Narkoba Memasuki Rumahmu

Senin, 14 April 2014. Hari pertama yang padat. Selama di bus AKAP jurusan Bandung – Jakarta, sosok itu agar merasa tidak tenang. Wajar, undangan dari Badan Narkotika Nasional (BNN) sejatinya dimulai pukul 09.00 dan busnya baru saja memasuki Jakarta pada pukul 10.30. Terlambat. Maka dari itu, sampai di Kelapa Gading dirinya berkemas lagi mempersiapkan sepedanya dan langsung menembus jalanan ibukota. Panas terik tidak dihiraukannya, hingga sampailah ia di Kantor BNN Cawang pukul sebelas lebih. Tepatnya ia tidak tahu. Sosok itu tidak terlalu memedulikannya, yang penting ia segera memarkirkan sepedanya lalu bersegera memasuki ruang FGD dilaksanakan. Bertegur sapa dengan para blogger yang melihatnya, termasuk Pak Thamrin Dahlan yang kebetulan ada di meja registrasi. Beruntung masih ada Pak Yappi Manafe, Deputi Pencegahan BNN, yang sedang berbicara.

Narkoba adalah masalah bersama. Narkoba tidak hanya bersifat lokal dan nasional. Narkoba sudah memasuki ranah internasional. Oleh karena itulah standar penanggulangannya tidak lagi diatur oleh tiap-tiap negara—meski hal ini menjadi kebijakan dari masing-masing negara—tetapi sudah menjadi standar United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC). Indonesia yang mencanangkan Tahun 2014 sebagai Tahun Penyelamatan Pengguna Narkoba tentu harus berpedoman pada aturan standar internasional ini.

Continue reading “Cegah Narkoba Memasuki Rumahmu”

Peran Farmasis Membantu BNN

Semua elemen bertanggungjawab
Semua lapisan masyarakat bertanggungjawab
Apa pun pendidikan dan profesinya
Yuk, jadilah Indonesia Bebas Narkoba

Siapa yang tidak mengenal dengan istilah ‘narkoba’. Namun tidak banyak yang mengetahui apa itu ‘narkoba’ yang sebenarnya dan apa bahayanya. Banyak yang hapal kalau narkoba itu singkatan dari narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif berbahaya lainnya, tetapi tidak banyak yang mengetahui apa itu narkotika, apa itu psikotropika, dan apa itu bahan adiktif yang dianggap berbahaya. Sedangkan definisinya sudah bisa dicari di dunia maya—kalau perlu disaling ulang—bahwa narkoba adalah zat atau bahan yang masuk ke dalam tubuh manusia baik melalui mulut, hidung, atau bahkan disuntik, efeknya ternyata dapat mengakibatkan perubahan pikiran, mengubah perasaan atau suasana hati, dan lebih berbahayanya adalah dapat mengubah perilaku seseorang. Salah satu ciri paling spesifik dari narkoba adalah sifat ketergantungannya, baik itu secara fisik maupun psikologis.

Continue reading “Peran Farmasis Membantu BNN”

Pedulilah pada Hilangnya Satu Generasi

Ini kejahatan serius, bahkan sangat serius
Masalah narkoba adalah masalah bersama

Ya, narkoba memang termasuk kejahatan sangat serius atau extra ordinary crime. Boleh dibilang ini biangnya kejahatan. Terorisme tidak ada apa-apanya karena ‘hanya’ menghilangkan nyawa. Korupsi pun demikian karena ‘hanya’ kehilangan uang. Narkoba dapat menghilangkan nyawa dan uang, bahkan lebih dari itu narkoba dapat berdampak pada putusnya mata rantai generasi bangsa alias hilangnya satu generasi (lost generation). Narkoba adalah kejahatan lintas negara (trans national crime) dan kejahatan yang terorganisir.

Lihat saja data yang dihimpun oleh Badan PBB untuk Kejahatan dan Narkoba atau UNODC dimana pada 2013 sudah ada 210 juta pengguna (byuh, ngeri kan?). Kalau skalanya diperkecil hanya di lingkup negara Indonesia dan hanya mengambil data 2011, ternyata pengguna narkoba tertinggi terjadi di Jakarta (dengan kenaikan 2.06%), sedangkan kota yang mengalami penurunan adalah di Jogja (0.42%). Data lain juga ditunjukkan bahwa pengguna narkoba di Indonesia pada 2008 adalah 3.3 juta, pada 2011 meningkat menjad 4 juta, dan kemungkinan kalau proses ini tidak dibatasi atau tidak ada penanggulangan yang berarti maka pada 2015 akan terdapat 5.1 juta pengguna. Wow!

Continue reading “Pedulilah pada Hilangnya Satu Generasi”