Mengejar Khatam dengan Iktikaf

Momen Ramadhan selalu tidak bisa dipisahkan dengan prosesi ibadah shalat malam dan membaca Al-Quran (tilawah). Oleh karena itu Ramadhan akan selalu identik dengan shalat tarawih dan iktikaf. Pada iktikaf, semua umat Muslim berlomba-lomba (khususnya pada malam ganjil) untuk mendapatkan lailatul qadar, yaitu sebuah malam yang jika beribadah pada malam itu maka pahalanya hampir sama dengan ibadah 1000 malam di hari yang lain. Subhanallah.

Dan sosok itu berusaha mencoba menggapai itu, selain tentu saja berusaha meraih satu kali khatam Al-Quran mengingat pada tahun sebelumnya gagal dicapai. Meski start yang lumayan terlambat–seharusnya sudah dimulai pada hari pertama dengan 1 juz per hari–dengan banyak alasan (yang salah satunya adalah karena faktor kesehatan) namun sosok itu berjanji harus mampu menggapai juara khatam satu kali. Khatam adalah salah satu cara agar kita sering membaca Al-Quran. Rasulullah saw. bersabda, “Bacalah selalu Al-Quran, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat nanti untuk memberi syafaat kepada para pembacanya.”

Continue reading “Mengejar Khatam dengan Iktikaf”

Iktikaf

… dan janganlah kamu pergauli mereka sedang kamu beriktikaf dalam masjid. (QS. Al-Baqarah: 187)

Abu Said Al-Khudriy ra. berkata, “Rasulullah saw. melakukan iktikaf pada hari kesepuluh pertama bulan Ramadhan, kemudian pertengahannya. Beliau memakai kopiah buatan Turki yang dihiasi dengan tenunan. Lalu beliau memindahkan hiasannya ke atas kopiahnya. Kemudian mengangkat kepalanya dan berkata di hadapan orang banyak, ‘Aku beriktikaf pada sepuluh malam pertama, menunggu (lailatul qadr) pada malam ini, kemudian beriktikaf lagi pada pertengahannya. Tatkala tidur, aku mendapatkan wahyu bahwa lailatul qadr itu pada sepuluh malam terakhir. Barang siapa yang ingin beriktikaf maka lakukanlah.’ Setelah itu, para sahabat pun beriktikaf bersamanya.” (HR. Muttafaq’alaih)

Dai Aisyah ra., istri Nabi saw., bahwasanya Nabi saw. biasa beriktikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga meninggal dunia. Kemudian diteruskan kebiasaan iktikafnya oleh istri-istri beliau. (HR. Muttafaq’alaih)

Baca juga artikel yang berkaitan atau melihat daftar isi