Budaya Ya-Ya-Ya

Budaya di negeri liliput ini memang ajaib. Saking ajaibnya, semua yang berbau aneh akan dipandang normal. Namun sebaliknya, yang beraroma normal, akan dipandang gila. Ini serius!

Sosok itu hanya menggeleng-gelengkan kepala. Seorang anak TPA dengan seragam ngajinya-lah penyebabnya. Anak itu dengan suara kerasnya berkata, “Orang gila…! Orang gila…! Orang gila…!” Yang jelas ditujukan pada sosok itu, yang sedang mengayuh sepeda dengan atribut lengkapnya.

Sosok itu hanya tersenyum. Entah mau berkata apa pada sang ibu yang mendampingi dan tidak mendiamkan sang anak. Opsi ini pun hanya permainan kata, tak lebih. Bisa jadi sang anak memang sedang meneriakkan atributnya yang dianggap “ajaib” bagi matanya. Bagi mata normalnya yang terbiasa melihat para pesepeda tanpa atribut (baca: helm dan kacamata).

Inilah keajaiban negeri liliput. Memakai helm bagi pesepeda adalah wajib, jika mengingat akan keselamatan dirinya. Sama halnya dengan kendaraan roda dua yang bermotor sekalipun. Tanpa harus ada peraturan tertulis. Ini jika mengingat keselamatan jiwa pengendara dan orang yang dibonceng. Sama halnya dengan pengendara roda empat yang harus pakai sabuk pengaman.

Tapi sekali lagi, inilah keajaiban negeri liliput. Hampir dari kita, semuanya, menganggap sesuatu itu sudah di luar levelnya. Yang haram sudah dinilai halal. Yang halal malah dipertanyakan. Padahal Sang Maha sudah mewanti-wanti bahwa yang hak itu hak, yang batil itu batil. Budaya di negeri ini memang sudah ya-ya-ya.[]

Sadar Selamat

Sosok itu tersenyum. Anak berseragam putih-biru yang baru saja dilewatinya menyapa dengan tertawa. Tertawa bersama rekan-rekannya. “Eta nu motor teu make helm, iyeu sapedahan make helm. Araraneh.”

Sosok itu merasa entah. Siapa yang ditertawakan?

Negeri liliput di sini memang aneh. Beberapa peraturan dibuat hanya untuk dilanggar, katanya. Istilah “sadar” baru menjadi kenyataan jika ada petugas. Aksi aneh ini pun yang memunculkan iklan betapa rambu-rambu tidak berfungsi dengan baik kecuali ya, itu … ada petugas yang selalu “stand by”. Wajib helm pun dianggap memberatkan, kendati beberapa helm memang berat.

Sosok itu teringat bagaimana dia bersimbah linu saat ditabrak mobil. Untungnya dia tidak apa-apa akibat kelakuan mobil tak bermoral itu. Sosok itu bersyukur pada Sang Maha yang telah mempersiapkannya dengan peralatan yang lengkap. Sarung tangan, sepatu, dan juga helm. Sosok itu telah sadar keselamatan, bukan sadar hukum atau sadar berlalu-lintas.

Tidakkah kita semua, para warga negeri liliput ini juga harus “sadar”? Sadar yang sebenarnya. Bukan sadar euforia karena takut dikenai pajak paksa di tengah jalan. Tapi sadar diri bahwa kita adalah makhluk yang mudah terluka. Itu saja.[]