Memenuhi Harapan Kakak

“Bi, lihat, deh. Ini tabungan Kakak selama ini. Kalau Abi butuh ambil saja, nanti Kakak bisa menabung lagi. Lagian Kakak sudah mulai mengurangi uang jajan agar bisa nabung setiap hari.”

Sedih. Miris. Seolah ada jarum-jarum kecil yang secara tiba-tiba hadir di dalam hati. Menusuk-nusuk tanpa memedulikan inangnya yang sedang jatuh. Sebagai orangtua, siapa yang tidak ‘mbrebes mili‘ saat seorang anak mengatakan kalimat seperti di atas. Di satu sisi ada kebanggaan bahwa anak yang baru duduk di kelas 5 SD sudah begitu mulia dan pengertiannya memahami kondisi keuangan keluarga. Tapi di satu sisi, ada rasa malu dan hina. Ya, kehidupan memang tidak selamanya indah. Laksana roda yang terus berputar—entah perlahan atau cepat—atau kadang ngetem pada waktu yang tidak disangka-sangka, kehidupan seseorang tidak selamanya di atas. Dan kalimat Kakak di atas, tentu saja terjadi saat sosok itu sedang berada pada ekonomi kasta terbawah.

Continue reading “Memenuhi Harapan Kakak”