Kalimat Pembuka dan Kalimat Penutup

Salam, Anda akan sering mendengar saya membicarakan jenis-jenis keberanian yang disyaratkan oleh tugas penulisan. Salah satunya adalah keberanian yang dibutuhkan untuk melihat dengan dingin kalimat-kalimat atau paragraf-paragraf pada awal dan akhir cerita. Setelah melihatnya, Anda kadang memerlukan keberanian untuk menghapus kalimat atau paragraf itu.

Lihatlah paragraf pertama Anda yang menggambarkan malam itu dan pekuburan itu, yang berakhir dengan jeritan tersebut. Pertanyaan saya adalah: Apakah Anda benar-benar membutuhkan paragraf pertama ini? Akan tetapi, justru ini, demikian Anda akan berkata, yang memicu keseluruhan cerita. Cerita ini memang berkisah tentang jeritan yang agaknya datang dari pekuburan di tengah malam. Bagaimana bisa saya membuangnya? Mengapa saya harus membuangnya?

Continue reading “Kalimat Pembuka dan Kalimat Penutup”

Kata Sifat dan Kata Keterangan

Salam, mari kita bahas kalimat pertama cerpen Anda, “Jeritan di Tengah Malam”.

Sinar bulan keperakan menerobos naungan hijau tebal yang terbentuk dari ranting pepohonan jati tua dan dengan lembut menotoli monumen marmer yang seabad umurnya itu, yang berdiri dengan sedih dan terbuang di sudut terpencil pekuburan sunyi.

Anda menulis kalimat tersebut karena Anda ingin menata adegan dan menciptakan suasana bagi cerpen yang akan Anda kisahkan. Anda berusaha melakukan apa yang dilakukan musik pada bagian pembuka sebuah film. Akan tetapi, kalimat Anda kekurangan vitalitas; ada yang menahan ia meraih kehidupan. Nyawa seluruh kisah sebenarnya terancam oleh kata sifat (keperakan, tebal, hijau, tua, seabad umurnya, sedih, terbuang, terpencil, sunyi). Kisah ini sudah berisiko sejak awal karena kata-kata sifat (adjektiva) itu mengambil alih kendali tulisan, mengaburkan pandangan Anda dari apa yang ingin Anda uraikan.

Continue reading “Kata Sifat dan Kata Keterangan”

Tulislah Apa yang Anda Tahu

Salam, naskah cerpen Anda, “Jeritan di Tengah Malam”, telah sampai di tangan saya untuk dinilai. Saya juga sudah membaca surat yang Anda sertakan bersama cerpen itu. Anda katakan bahwa Anda sering merasa tertekan dan terkucil karena tinggal di kota kecil dan bekerja menulis cerita. Saya paham. Kapan pun, menulis adalah pekerjaan yang sunyi. Pastilah sepi rasanya jika Anda satu-satunya orang yang menulis dalam radius bermil-mil. Saya gembira Anda melihat iklan kami di surat kabar, dan saya berharap bahwa ulasan saya terhadap karya Anda akan mengilhami Anda untuk menulis lebih banyak lagi. Sebenarnya, penciptaan cerita itu sendiri merupakan semacam jaminan melawan sepi karena Anda dapat menciptakan tokoh-tokoh yang terlibat dengan Anda. Lalu ketika karya Anda diterbitkan, Anda akan berkomunikasi dengan segala macam orang yang belum Anda kenal. Dalam The Cinderella Complex, Colette Dowling menulis: “Yang memaksa saya mulai menulis adalah, saya tidak ingin lagi sendirian.”

Continue reading “Tulislah Apa yang Anda Tahu”