Bos Badir Meradang (2)

Sambungan dari Bos Badir Meradang (1)

Negara Paman Sam boleh berang terhadap Osama. Namun keberangan itu haruslah disesuaikan dengan bukti-bukti yang ada. Janganlah menjadikan keberangan itu menimbulkan kerugian yang akan menambah masalah baru bagi insan-insan yang tidak berdosa. Insan-insan yang hanya mengetahui perjuangan hidup untuk dapat makan sehari-hari dan penghidupan yang layak. Ya, hidup yang layak seperti aku. Tidak menjadi masalah bila kepolisian menuduhku sebagai otak di belakang kasus pengeboman BEJ dan Atrium Senen. Tetapi sekali lagi, apakah layak jika tuduhan itu berlebihan dan memporak-porandakan kehidupanku? Tidak!

“Bagaimana dengan penyelidikan yang kamu lakukan selama ini, Paijo?” tanyaku sambil menuangkan scotch ke dalam sloki.
“Hampir berhasil, Bos.”
“Hampir berhasil bagaimana!?” hardikku.

Continue reading “Bos Badir Meradang (2)”

Bos Badir Meradang (1)

Kehidupan baru saja lahir
: hanya begitu saja
Telur dahulu
atau anak ayam dahulu?

Awalnya aku adalah orang yang miskin. Lahir dari sebuah keluarga yang tergolong elit (baca: ekonomi sulit) dan tinggal di kawasan yang terbilang kumuh, tepatnya di bagian utara Jakarta. Karena berawal dari keadaan di bawah roda kehidupan, akhirnya kepribadianku terbentuk secara alami untuk mengatasi hal-hal yang selalu terjadi pada rakyat kecil. Aku jadi tidak gampangan cengeng, menyukai kekerasan, dan berusaha mendapatkan sesuatu dengan menghalalkan segala cara. Namun itu semua sudah kurasakan seiring terkurasnya keringat dan darahku. Episode masa lalu yang tidak perlu diingat-ingat, apalagi melihat keadaanku yang sudah berubah drastis saat ini. Tetapi perlu diingat, bahwa walaupun aku sudah tergolong eksekutif, kepribadianku masih tetap seperti yang dulu. Dingin dan kejam.

Continue reading “Bos Badir Meradang (1)”

Peran Farmasis Membantu BNN

Semua elemen bertanggungjawab
Semua lapisan masyarakat bertanggungjawab
Apa pun pendidikan dan profesinya
Yuk, jadilah Indonesia Bebas Narkoba

Siapa yang tidak mengenal dengan istilah ‘narkoba’. Namun tidak banyak yang mengetahui apa itu ‘narkoba’ yang sebenarnya dan apa bahayanya. Banyak yang hapal kalau narkoba itu singkatan dari narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif berbahaya lainnya, tetapi tidak banyak yang mengetahui apa itu narkotika, apa itu psikotropika, dan apa itu bahan adiktif yang dianggap berbahaya. Sedangkan definisinya sudah bisa dicari di dunia maya—kalau perlu disaling ulang—bahwa narkoba adalah zat atau bahan yang masuk ke dalam tubuh manusia baik melalui mulut, hidung, atau bahkan disuntik, efeknya ternyata dapat mengakibatkan perubahan pikiran, mengubah perasaan atau suasana hati, dan lebih berbahayanya adalah dapat mengubah perilaku seseorang. Salah satu ciri paling spesifik dari narkoba adalah sifat ketergantungannya, baik itu secara fisik maupun psikologis.

Continue reading “Peran Farmasis Membantu BNN”

Pedulilah pada Hilangnya Satu Generasi

Ini kejahatan serius, bahkan sangat serius
Masalah narkoba adalah masalah bersama

Ya, narkoba memang termasuk kejahatan sangat serius atau extra ordinary crime. Boleh dibilang ini biangnya kejahatan. Terorisme tidak ada apa-apanya karena ‘hanya’ menghilangkan nyawa. Korupsi pun demikian karena ‘hanya’ kehilangan uang. Narkoba dapat menghilangkan nyawa dan uang, bahkan lebih dari itu narkoba dapat berdampak pada putusnya mata rantai generasi bangsa alias hilangnya satu generasi (lost generation). Narkoba adalah kejahatan lintas negara (trans national crime) dan kejahatan yang terorganisir.

Lihat saja data yang dihimpun oleh Badan PBB untuk Kejahatan dan Narkoba atau UNODC dimana pada 2013 sudah ada 210 juta pengguna (byuh, ngeri kan?). Kalau skalanya diperkecil hanya di lingkup negara Indonesia dan hanya mengambil data 2011, ternyata pengguna narkoba tertinggi terjadi di Jakarta (dengan kenaikan 2.06%), sedangkan kota yang mengalami penurunan adalah di Jogja (0.42%). Data lain juga ditunjukkan bahwa pengguna narkoba di Indonesia pada 2008 adalah 3.3 juta, pada 2011 meningkat menjad 4 juta, dan kemungkinan kalau proses ini tidak dibatasi atau tidak ada penanggulangan yang berarti maka pada 2015 akan terdapat 5.1 juta pengguna. Wow!

Continue reading “Pedulilah pada Hilangnya Satu Generasi”