Cintai Indonesia dengan Melihatnya Sendiri

Melihat berita saat ini seolah membutakan hati, membakar amarah yang sudah dipendam setengah mati. Menyaksikan media sosial yang sebenarnya hanya kumpulan dari beberapa status pribadi, juga tidak terlalu bedanya. Bahkan lebih dari itu, efeknya jauh lebih berbahaya dari hanya sekadar berita di media konvensional. Mengapa? Karena di sana ada perang kata-kata yang jauh lebih berbahaya dari perang senjata. Luar biasa kondisi Indonesia saat ini. Seolah semua masyarakat berjibaku dan merasa paling benar, sementara yang diperdebatkan bisa jadi tidak terlalu peduli. Sosok itu jadi mengurut dadanya yang tiba-tiba saja terasa nyeri.

Ingatannya kemudian terlempar ke beberapa tahun ke belakang, saat dirinya masih ber-KTP Jakarta. Kehidupan yang begitu keras, khususnya di jalanan. Tidak saling percaya, selalu suuzon terhadap orang yang menempel saat berada di angkutan umum. Belum beberapa preman berkulit hitam yang sering dilihatnya di terminal, stasiun, pasar, atau bahkan di jalan-jalan. Anggapan orang-orang yang berkulit gelap atau memiliki ciri khas orang Timur begitu menempel di kepalanya sebagai preman. Sebagai orang yang siap mempertaruhkan nyawa demi beberapa rupiah yang bukan haknya. Miris.

Continue reading “Cintai Indonesia dengan Melihatnya Sendiri”