Narkoba : Berawal dari Rokok

“Waktu itu seperti biasa saya melewati jalan itu. Anak-anak berseragam putih merah bergerombol di beberapa titik. Rata-rata mereka berkumpul di depan pedagang yang produknya memang sangat diinginkan. Bisa mainan, bisa makanan, dan bisa juga minuman. Bahkan, ada juga pedagang hewan-hewan kecil semacam keong, hamster,  ayam atau burung yang diwarnai. Para pedagang itu senang jika anak-anak berkerumun. Jauh lebih senang lagi kalau ada di antara mereka membelinya. Anak-anak pun begitu. Mereka senang dapat melihat dan memegang apa yang diinginkannya. Yang tidak memiliki cukup uang, sudah merasa puas dapat memegangnya. Sebuah rutinitas biasa di depan gedung sekolah. Jajanan SD begitu menggoda, bahkan oleh mereka yang tidak lagi SD.”

Di sebuah sekolah dasar di daerah Cempaka Putih sosok itu mendengarkan cerita. Tubuh orang yang bercerita sedang, dengan tinggi sekira 165 cm, tidak terlalu kurus. Rambutnya boleh dibilang minimalis, tetapi tidak botak. Kulitnya hitam, meski tidak legam, bukti bahwa dirinya sering berpanas-panasan di tengah kota Jakarta yang makin menerik. Kang Zurlen, begitulah sosok itu memanggilnya. Beberapa rekan sejawat memanggilnya dengan sebutan Mas atau Pak. Gerak-gerik tubuhnya tampak gesit, tipe orang yang tidak mau tinggal diam dan lebih memilih melebur bersama siapa saja yang ingin mengobrol dengannya. Ia pun begitu antusias bercerita pada sosok itu.

Continue reading “Narkoba : Berawal dari Rokok”

Merokok Itu Sehat?

Rokok-1Sosok itu baru menyadari bahwa iklan rokok yang ada di televisi ada yang berbeda. Di akhir iklan tidak dijumpai lagi tulisan panjang bahwa merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin. Tetapi di sana langsung tertulis dengan telak: MEROKOK MEMBUNUHMU. Di beberapa iklan bahkan ditambahkan gambar orang berkumis sedang mengepulkan asap dengan dua tengkorak di latarnya plus tulisan 18+ di dalam lingkaran hitam. Usut punya usut ternyata hal ini sesuai dengan PP 109 Tahun 2012 meski baru akan berjalan efektif pada bulan Juni 2014. Jadi, perubahan kata-kata tersebut merupakan inisiatif dari perusahaan rokok untuk mendukung PP 109.

Ngomong-ngomong soal rokok, sosok itu pun sebenarnya adalah perokok. Ya, perokok! Baru tahu ya? Sila komentar di sana dan bebas-bebas saja memberikan kritikan karena sosok itu tidak akan menghapusnya seperti halnya DTL hehehe. Dan mengenai soal hukum rokok, sosok itu pun pernah membahasnya secara panjang lebar bahwa rokok itu memang haram. Kalau sudah haram, sudah tentu bahwa rokok itu pasti tidak sehat. Ada banyak mudharat atau kerugiannnya dibanding manfaatnya. Jadi, masih yakin bahwa merokok itu sehat? Coba deh cari tahu sendiri. Sosok itu kebetulan pernah menonton sebuah film dokumenter bagaimana petinggi-petinggi perusahaan rokok internasional tidak ada satupun yang merokok karena tahu efek bahayanya. Di film itu juga ada beberapa pasien di rumah sakit yang satu ruangannya berisi orang-orang tua dan beberapa masih terbilang muda, dimana mereka semua sulit bernapas karena paru-parunya sudah rusak. Kata salah satu dari mereka, “Tidak ada satu pun stasiun TV yang mau merekam kami. Mungkin mereka takut. Entahlah. Yang pasti, kami semua menyesal karena terus merokok dan menganggap itu hebat.”

Continue reading “Merokok Itu Sehat?”