Nikmat yang Terlupakan

Sosok itu tercenung. Baru kemarin suaranya menggelegar, menggema ke seantero jagad audio. Baru kemarin ia bisa berorasi dengan mantra-mantra sihirnya pada wilayah kekuasaannya. Baru kemarin ia berasyik-masyuk dengan keromantisan vokalnya. Baru kemarin ia bercengkerama dengan bahasa indahnya di setiap ikatan empat mata. Dan baru kemarin ia bisa menghipnotis sang kekasih dengan bahasa puitis nan anggun. Baru kemarin.

Kini sosok itu tercenung. Betapa berharganya harga suara yang telah menjadi bagian dari hidupnya. Betapa mahalnya bisa mengatakan “Aku tidak tahu” atau mengatakan “Aku pasti bisa”. Betapa menggairahkannya saat ia bisa mengucapkan “Aku cinta padamu” atau “Tanpamu, apalah aku” pada sang kekasih.

Sosok itu semakin tercenung. Betapa suara adalah kenikmatan yang tak dapat digantikan dengan apapun di dunia. Nikmat yang terlupakan. Nikmat yang ditertawakan, lalu berjuta-juta mulut menangis saat ia telah tiada. Terlambat.

NB: Jika ada Toko Suara di dunia ini, tentu akan banyak orang yang akan mengantre untuk membelinya. Percayalah.