Mari Berbagi Bacaan …

Posts Tagged ‘flp

Acara Indonesia Book Fair (IBF), bagi penerbit dan pecinta buku telah menjadi acara rutin tahunan. Ajang ini adalah momentum bagi bertemunya para pecinta buku, penulis, sekaligus promosi bagi para penerbit buku untuk secara langsung menyapa pembaca. Namun, tahun 2011 ini acara rutin tersebut telah digeser secara semena-mena oleh penguasa (Presiden SBY) padahal tempatnya jelas berbeda.

Dalam pengumumunnya, panitia IBF 2011 menginformasikan bahwa IBF yang diadakan di Istora Senayan Jakarta tanggal 26 November yang jatuh hari Sabtu,  diliburkan karena pada hari/tanggal tersebut ada acara kenegaraan yang berlangsung di Gedung JCC. Kita semua tahu, acara yang disebut acara kenegaraan itu sebenarnya acara pribadi presiden yang menikahkan anaknya.

Read the rest of this entry »

Ada kerinduan tersendiri bagi sosok itu berkumpul dan bercengkerama dalam suasana puitis. Dan hal itu takterjadi jika bukan dalam komunitas penulis yang bergiat di bidang kesusastraan. Forum Lingkar Pena (FLP) memang masih dianggap sebelah mata oleh beberapa kalangan yang menyebut dirinya sastrawan/wati. Beberapa menyebutkanya sebagai kelompok ‘Mualaf Sastra’. Anak kemarin sore yang baru belajar menulis. Akan tetapi inilah FLP.

Inilah FLP yang telah membesarkan dan merawat sosok itu hingga berani mencari segenggam berlian dari kegiatan menulis. Di wadah inilah sosok itu mulai mengenal beberapa nama yang telah malang-melintang di jagad kesusastraan Indonesia. Bersama Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Izzatul Jannah, Muthmainnah, Afifah Afra, Habiburrahman El-Shirazy, Sinta Yudisia, M. Irfan Hidayatullah, dan masih banyak nama lain yang jauh lebih tenar dan terkenal dibanding sosok itu. Dan dari komunitas inilah sosok itu kemudian bisa berdiskusi dengan Joni Ariadinata, Bambang Q-Anees, Boim Lebon, Gol A Gong, Taufiq Ismail, Ahmadun Y. Herfanda, Yus R. Ismail, Soni Farid Maulana, dan beberapa nama hebat sastrawan lainnya.

Read the rest of this entry »

Pagi ini harusnya ceria. Dan memang, sosok itu begitu ceria hingga masih bisa mengantarkan Kakak Bintan ke sekolah, menjemput sang belahan jiwa, hingga sempat-sempatnya mengukur celana untuk seragam ke kantor. Namun, apa daya ketika sampai di kantor dan membuka beberapa email kabar itu membuat pagi sosok itu menjadi mendung. Fiuhhh! Hanya Sang Maha yang Mahatahu usia kita sampai kapan. Detik ini, menit ini, jam ini, hari ini, esok, minggu depan, bulan depan, atau tahun depan. Wallahu’alam.

Innalillahi wa inna-ilaihi raji’un. Kabar pertama datang dari Mas Ali (penulis buku anak pemecah rekor MURI) yang menyatakan bahwa Nurul Fithorini a.k.a. Nurul F. Huda telah berpulang ke Rahmatullah pada hari ini, 18 Mei 2011, pukul 03.15 WIB di RSUD dr. Sardjito, Yogyakarta. Insya Allah jasadnya akan dimakamkan di Purworejo. Pejuang pena itu telah tiada. Takada yang ditinggalkan kecuali karya-karyanya yang berbentuk buku. Kejadian ini mengingatkan sosok itu ketika kehilangan Diana Roswita, pejuang pena lainnya yang menjadi korban Tsunami di Aceh (padahal seperti baru kemarin sosok itu mengedit tulisannya).

Read the rest of this entry »

Jadi gatal juga melihat antusias sobat baraya yang me-list 15 atau (bahkan ada yang sampai) 25 buku paling diingat. Tidak hanya itu, ada juga daftar buku yang membuat air mata mengalir. Luar biasa! Sadar atau tidak, semua buku–yang kita ingat itu–lah yang mengantarkan beberapa di antara kita menjadi seorang penulis atau menjadi seperti apa diri kita saat ini. Saya pun mengakuinya ….

Berbeda dengan yang lain, saya sangat terinspirasi oleh beberapa bacaan, bukan hanya dalam bentuk buku. Oleh karena itulah saya me-list sendiri 15 bacaan yang paling diingat dan menginspirasi saya.

Read the rest of this entry »

—-Perempuan muda itu menatap ke arah lain.
—-Danau yang terbentuk di sudut matanya sudah tak terbendung lagi, menciptakan aliran sungai yang melukis wajah pasinya, lalu jatuh menetes setelah sebelumnya menggantung pada pahatan dagunya.
—-Nafasnya seperti menahan beban yang amat berat. Urat-urat di kedua bola putihnya pun sudah mulai berisi sel-sel darah sehingga menciptakan rona merah pada kedua matanya. Sakit!
—-Aku memahami apa yang sedang dialami olehnya. Rasa sakit yang sama.
Tak ada angin di ruangan itu. Tak ada suara hingga ukuran mikrodesibel sekali pun. Dua manusia, namun seolah-olah mati. Mati oleh perasaannya sendiri. Terkalahkan oleh kematian yang membuat segalanya berubah. Kematian yang membuat ruangan itu laksana kubur. Gelap dan terasing. Benar-benar senyap. Sampai-sampai aku bisa mendengar tidak hanya kembang-kempisnya jantungku sendiri, tetapi juga derasnya aliran darah di dalam pembuluh darahku dan kejutan-kejutan listrik di seluruh saraf otakku.
—-Ada seonggok daging di keranjang itu … dengan darah yang menggenang!
—-Sementara di luar sana, aku tahu hampir semua orang tengah bergembira. Berkumpul bersama keluarga dan kerabat dengan hidangan khas ketupat yang memiliki nilai magis tidak dua.

Read the rest of this entry »


Archives

Blog Stats

  • 154,510 hits
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 93 other followers