Mari Berbagi Bacaan …

Berbela Sungkawa

Posted on: January 24, 2012

Cerita ini adalah kisah nyata dari sosok itu saat masih duduk di bangku SMU. Nama dan latar belakang cerita sengaja dibedakan plus ditambah bumbu-bumbu dapur untuk menciptakan rasa yang enak dan gurih, eh, bisa dinikmati oleh pembaca. Kalaupun ada kesamaan nama tokoh atau peristiwa, tolong jangan ditanyakan pada pihak keamanan kompleks karena dia tidak tahu apa-apa dan sedang disuruh memanggil tukang sayur yang tadi terlewati begitu saja. Selamat menikmati.

—-Di tempat duduknya, Yoyok mematung. Sudah hampir setengah jam kedua tangannya terus memegangi kepala. Pandangannya seolah-olah kosong. Buku tulis di hadapannya pun seperti hilang. Angin yang berembus dari arah jendela di sebelahnya seperti tidak bisa mengusik lamunannya yang teramat panjang. Angin itu pula yang membuat lembaran-lembaran kertas bukunya bergerak-gerak. Bahkan, suasana kelas yang ramai pun seperti tidak bermakna di telinga dan matanya. Ia seperti berada di dunia lain. Dimana yang ada hanyalah gelap. Pekat. Tetapi bergemuruh.
—-Dalam ruang yang gelap itu, bayangan-bayangan berkelebat di sekelilingnya. Kecepatannya pun berubah-ubah. Beberapa di antaranya membentuk slide-slide bergambar. Layaknya sebuah film yang diputar di gedung bioskop. Menampakkan beberapa episode kehidupannya yang telah lampau. Terutama yang berhubungan dengan sosok yang kini sedang dilamuninya. Sosok perempuan yang berulang-ulang hadir dalam slide-slide itu. Yang kadang tertawa. Kadang melotot. Kadang mencibir. Kadang menjulurkan lidah. Kadang tersenyum, tetapi senyum yang mengejek.

—-Salah satu slide itu kemudian menampilkan dirinya yang berdiri terpaku di depan sebuah kelas. Yang sangat ramai. Kelas barunya di sebuah sekolah negeri tingkat pertama. Seragam putih-birunya pun masih baru. Ia terlihat ragu-ragu ketika memasuki kelas itu. Tetapi akhirnya, ia pun memberanikan diri untuk masuk. Baru tiga langkah ia masuk, tubuhnya yang kecil tiba-tiba langsung menegang. Tubuhnya bergetar karena rasa malu dan takut. Entah kenapa, kelas yang tadinya ramai kini telah berbalik menjadi sunyi. Dan semua pandangan mata yang ada di kelas itu, kini mengarah padanya.
—-Yoyok serba salah. Beberapa kali kacamatanya yang agak tebal dibenarkan. Padahal, kacamata itu telah benar letaknya. Tepat di atas hidungnya yang tidak terlalu mancung. Akhirnya, ia pun memberanikan diri untuk menatapi semua teman-teman barunya. Hanya untuk mengetahui kenapa mereka semua tiba-tiba saja menjadi diam. Dan tahulah kenapa ia dipandang seperti itu. Ternyata tidak ada satu pun dari mereka yang berkacamata! Namun untunglah hal itu tidak berlangsung lama. Mereka pun kembali ramai. Seolah-olah ia tidak ada di depan kelas.
—-Sekali lagi, Yoyok memandang ke seluruh ruangan kelas. Kali ini, ia ingin mencari bangku kosong. Dan ia menemukan dua tempat kosong. Satu berada di deretan ketiga dari depan dan barisan kedua dari kiri, sedang satunya lagi di pojok belakang sebelah kanan. Ia tidak mungkin duduk di pojok belakang, karena sudah pasti tidak dapat melihat tulisan di papan tulis. Jadi, pilihan pertamalah yang ia tuju. Di sana, duduk seorang murid perempuan yang sedang asyik membaca komik.
—-Rambut perempuan itu dikepang, dengan ikatan pita merah. Dari bentuk wajahnya yang oval, kulit yang langsat, bibir tipis, alis mata tebal, Yoyok menilai kalau perempuan itu sangat cantik. Sangat beruntung ia dapat duduk di sampingnya. Maka tanpa ragu-ragu lagi, ia pun langsung menuju ke tempat itu dan duduk begitu saja di sampingnya. Dan pada saat itulah—sekali lagi—suasana kelas kembali hening. Yoyok pun sadar kalau pandangan teman-teman barunya di kelas itu sedang menghujam dirinya. Termasuk pandangan perempuan di sebelahnya yang melotot tajam.
—-“Emangnya kamu siapa?! Berani-beraninya duduk di sebelahku?!” teriak perempuan berkepang itu langsung berdiri. Kedua tangannya berkacak pinggang. “Nggak ngaca apa kalau muka sama penampilan kamu tuh tidak pantas untuk duduk di sini?!” Kedua tangan perempuan itu tiba-tiba saja langsung mengambil tas Yoyok dan melemparkannya ke lantai. “Cih! Dasar mata empat nggak tahu diri!”
—-Saat itu, tubuh Yoyok terasa seperti mengecil. Hingga hanya sebesar semut yang langsung berlari terbirit-birit. Mukanya memerah karena rasa malu yang amat sangat. Maka, ia pun segera mengambil tasnya dan berjalan ke arah belakang. Tampaknya tidak ada pilihan lain baginya selain duduk di pojok belakang.
—-Slide itu lenyap. Bayangan-bayangan pun berkelebat lagi. Hingga akhirnya sebuah slide lain muncul. Di sana, dirinya sedang berada di dalam bus kota yang lumayan penuh. Di sebelahnya, duduk seorang perempuan yang pernah menolaknya untuk duduk bersama waktu kelas satu. Hanya saja rambut perempuan itu tidak dikepang lagi, melainkan dibiarkan terurai. Sementara di depannya, duduk salah seorang guru pembimbing yang mengantarkan mereka berdua mengikuti seleksi pelajar teladan tingkat SLTP se-Bandung. Waktu itu dia sudah kelas dua.
—-“Yan,” ujar Yoyok takut-takut pada perempuan di sebelahnya. “Gimana dengan soal-soal tadi. Kamu bisa mengerjakannya?” Dalam pandangannya, perempuan di sebelahnya yang bernama Yani terlihat sempurna. Sudah cantik, pintar lagi. Pantas saja kalau Yani menjadi primadona sekolahnya.
Yani tidak menanggapi pertanyaan Yoyok. Pandangannya lurus saja ke luar jendela bus. Tubuhnya pun seakan-akan disengaja agar tidak sehelai benang pun di pakaiannya yang boleh menyentuh Yoyok.
—-“Yan….”
—-“Heh!” seru Yani dengan nada yang amat kesal. Matanya hanya melirik pada Yoyok. “Kamu itu sebenarnya mau apa sih sama aku?!” teriak Yani tiba-tiba. Yoyok pun terkejut karena suara Yani mampu didengar oleh seluruh penumpang bus. “Ngaca dulu dong kalo mau ngobrol sama aku. Pantas nggak?!”
—-Diteriaki—atau lebih tepatnya didamprat—seperti itu, membuat Yoyok kehilangan nyali. Ia hanya bisa menatap lantai bus. Kupingnya seakan-akan memerah mendengar ucapan Yani. Tanpa sadar, di dalam perutnya pun bergejolak hebat.
—-“Kamu tuh beruntung bisa pergi dan duduk bersama aku! Sangat beruntung!” Yani memandang Yoyok tak berkedip, bahkan dengan bola mata yang terlihat besar. “Kalo bukan karena pilihan guru, aku tidak akan mau berangkat sama kamu! Tahu nggak?!”
—-Dan saat itulah Yoyok tidak kuat lagi menahan gejolak perutnya yang demikian hebat. Tanpa sempat dicegah lagi, ia pun muntah. Guru pembimbing yang tidak bisa mencegah semprotan Yani tadi, segera menolong Yoyok dengan memijit-mijit tengkuknya. Sementara Yani sendiri hanya mencibir dengan senyum licik yang seolah-olah dia telah memenangkan sebuah pertempuran.
—-Slide itu pun hilang. Lalu diganti dengan slide lain dengan setting sekolah. Dalam slide yang berganti-ganti cepat itu, terlihat wajah teman-temannya—termasuk Yani—yang menertawakan dan mencemoohkannya karena ketahuan muntah di bus kota. Kata-kata mengejek, mencibir, dan lainnya yang sejenis menyerang dirinya dari segala penjuru. Mereka semua menertawakannya, hingga akhirnya semua murid di sekolah itu pun tahu kalau Yoyok memang selalu muntah jika harus naik kendaraan umum.
—-Bayangan-bayangan kembali berkelebat. Lalu muncullah slide yang menampilkan Yoyok yang sedang berjalan di koridor sekolah. Di tangannya terpegang semangkok baso yang dipesan oleh guru IPA-nya. Ia berjalan begitu hati-hati agar kuah baso yang penuh itu tidak ada setetes pun yang tumpah. Apalagi pada jam istirahat, banyak murid-murid yang lalu-lalang tanpa memperhatikan jalan. Terutama yang berlari-lari. Sementara tak jauh di depannya, Yani dan kedua temannya sedang asyik mengobrol sambil mengemut permen lolipop.
—-Yoyok langsung menunduk. Ia memang suka salah tingkah jika berpapasan dengan Yani. Yani sendiri pun akhirnya sadar kalau Yoyok akan lewat di hadapannya. Tetapi ia pura-pura tidak tahu dan terus saja asyik mengobrol dengan membelakangi Yoyok. Tepat ketika Yoyok lewat, tiba-tiba saja Yani mundur sambil memegang perutnya dan tertawa. Seolah-olah ia memang tidak sengaja melakukan hal itu karena mengobrol sesuatu yang sangat lucu. Keruan saja, tubuh Yani pun langsung menabrak tubuh Yoyok.
—-Yoyok yang tidak menduga dengan gerakan Yani itu segera kehilangan keseimbangannya. Mangkok baso yang dipegangnya hampir saja jatuh, tetapi isinya sudah tumpah sebagian. Yani yang pura-pura tidak tahu, segera meminta maaf sambil menahan tawa melihat wajah Yoyok yang sudah berubah pasi. Dan Yani akhirnya tidak bisa menahan tawa ketika Yoyok dengan susah payah mengumpulkan kembali baso dan mienya yang tercecer. Sudah pasti Yoyok harus membayar harga semangkok baso itu dan juga menggantinya lagi dengan yang baru.
—-Kemudian slide lain menggantikan. Kali ini menampilkan ruangan kelas yang sedang mengadakan ulangan. Waktu sudah lewat satu jam dari dimulainya ulangan itu. Kebetulan saat itu adalah ulangan matematika. Sebagaian besar murid mengerutkan dahi mereka. Beberapa di antaranya melihat ke kanan-kiri. Celingukan melihat temannya dalam mengerjakan soal. Dan salah satunya adalah Yani yang terus memperhatikan Yoyok yang lagi serius berkutat dengan soal-soal. Di tangan kanannya tergenggam segumpal kertas.
—-Tepat ketika guru sedang lengah, Yani segera melempar kertas itu ke arah Yoyok. Kertas itu mengenai tubuh Yoyok dan langsung jatuh di sebelahnya. Yoyok pun segera menoleh ke arah lemparan kertas itu untuk mengetahui siapa yang melemparnya. Tetapi Yani pura-pura tidak tahu dengan berkutat pada soal-soal ulangan. Yoyok melihat kertas yang dilemparkan ke arahnya. Dan bersamaan dengan itu, gurunya melihat kertas itu.
—-“Itu kertas apa?!” tanya guru matematikanya pada Yoyok, sambil mendekat dan memungut kertas itu. Lalu membuka dan melihatnya.
—-Muka Yoyok terlihat memutih. Jantungnya berdebar sangat cepat.
—-“Ini punya kamu kan?!” tuding gurunya pada Yoyok.
—-Yoyok tidak bisa menjawab. Yang ada hanyalah tubuhnya yang gemetar. Ia memang tipe orang yang serba salah dan bingung jika dibentak seperti itu.
—-“Ya sudah! Sekarang kamu keluar sekarang juga!” bentak gurunya menunjuk ke arah pintu. “Saya paling tidak suka kalau ada murid yang berbuat curang!”
—-Dengan tubuh yang masih gemetar, Yoyok pun akhirnya berdiri dan meninggalkan ruangan kelas. Sebelum melewati pintu, masih dilihatnya Yani yang berusaha menutupi mulutnya yang tersenyum.
—-Slide lainnya kemudian langsung menampilkan lapangan sekolah yang ramai oleh murid-murid yang sedang berolah raga. Kebetulan waktu itu adalah pelajaran bola basket. Dan Yoyok sudah duduk di kelas tiga SMP. Yang dinilai saat itu adalah masuk tidaknya bola ke keranjang dari titik yang sudah ditunjuk guru. Kesempatan yang diberikan adalah tiga kali. Jika masuk semua, maka nilainya sempurna. Jika hanya masuk dua, nilainya delapan. Jika hanya masuk satu, nilainya enam. Jika tidak masuk sama sekali, maka nilai yang didapat adalah empat.
—-Bermacam-macam yang didapat para murid. Ada lima orang murid yang sempurna melakukan lemparan. Tetapi kebanyakan adalah yang hanya masuk dua bola atau satu bola saja. Yani sendiri berhasil memasukkan dua bola. Kebetulan memang, jarak dari titik lemparan dengan keranjang bagi murid laki-laki lebih jauh jika dibandingkan murid perempuan. Dan pada akhirnya, tibalah giliran Yoyok untuk melempar. Memang dia selalu berada pada urutan terakhir jika berdasarkan absen.
—-Pada lemparan pertama, bolanya sama sekali tidak menyentuh keranjang. Teman-temannya pun menertawakan. Yoyok segera membetulkan letak kacamatanya. Dan setelah ancang-ancang, ia pun melemparkan bola keduanya. Bola itu menyentuh keranjang, tetapi memantul kembali hingga tidak masuk. Teman-temannya kembali menertawakan. Bahkan di telinganya, terdengar ucapan Yani yang mengatakan, “Punya mata empat kok tidak masuk-masuk sih?!” Sesaat diliriknya Yani. Kembali ia membetulkan kacamata tebalnya lagi. Dan setelah ancang-ancang, ia pun melemparkan bola terakhirnya. Bola itu mengenai keranjang, lalu ke papan, lalu kembali ke keranjang, dan jatuh keluar. —-Yoyok menarik napas. Ia telah gagal. Nilai empat sudah pasti didapatkannya. Teman-temannya pun kembali menertawakan. Karena memang hanya Yoyoklah yang sama sekali tidak berhasil memasukkan bola. Tawa itu terus bergema hingga pelajaran olah raga usai.
—-Tak sampai di situ, Yani pun terus mengejek Yoyok hingga sampai pulang sekolah. Kupingnya panas mendengar ejekan dan cibiran Yani yang seperti tidak ada habis-habisnya. Entah kenapa, Yani tampaknya suka sekali mengejek dan menggoda Yoyok. Yoyok sendiri tidak tahu kenapa.
—-Slide itu pun menghilang. Lalu dilanjutkan dengan slide-slide lainnya yang terus berganti-ganti. Ada slide yang menampilkan Yoyok yang sedang jatuh karena kakinya dijegal oleh kaki Yani. Ada slide yang menampilkan Yoyok dicemooh oleh Yani. Dicibir. Dimarah-marahi. Dan berbagai macam perlakuan yang tidak mengenakkan hati. Slide-slide itu pun kemudian beralih dengan sangat cepat. Sehingga yang ada adalah tampilan wajah Yani yang berubah-ubah bentuk. Melotot. Tersenyum mengejek. Tertawa. Menjulurkan lidah.
—-Hingga pada akhirnya, slide-slide itu pun menghilang. Meledak. Bersamaan dengan keadaan gelap pekat yang tiba-tiba saja menjadi bercahaya. Amat terang. Lalu cahaya itu hilang berangsur-angsur. Sampai akhirnya, Yoyok dapat melihat buku tulisnya sendiri. Dan ia pun dapat merasakan sentuhan lembut di bahunya.
—-“Yok! Yoyok! Kok melamun sih?” tegur seseorang.
—-Yoyok mengerjapkan matanya. Kepalanya diangkat dan langsung menoleh pada sumber suara yang menegur. “Eh, Don. Ada apa?” ujarnya sambil membetulkan kacamata tebalnya.
—-“Kok, ada apa, sih?” Doni balik bertanya. “Jadi ikut nggak ke rumah Yani?”
—-Yoyok kembali mematung.
—-“Tuh, kan. Malah bengong lagi. Jadi ikut, nggak?” Doni menggeser Yoyok dan langsung duduk di sebelahnya. Tangan Doni merangkul bahu Yoyok. “Yok, Yani itu teman kita waktu SMP. Bahkan, dia satu kelas terus sama kita dari kelas satu sampai kelas tiga. Sekarang pun, kita satu kelas lagi. Teman-teman SMP kita yang melanjutkan sekolah ke SMU Nusantara ini hanya sedikit.”
—-Yoyok menatap Doni, “Kamu tahu apa yang sering ia lakukan terhadapku?”
—-Doni terdiam. Matanya hanya memandang wajah Yoyok. Beberapa saat, ia menghela napas panjang. “Itu urusan kamu, Yok. Aku hanya mau mengajak bareng ke rumah Yani. Kalau kamu mau ikut, pas bubaran sekolah nanti, kita bisa sama-sama ke sana,” ujar Doni, kemudian berdiri. Setelah menepuk bahu Yoyok dua kali, Doni pun meninggalkannya.
—-Yoyok mendesah. Pandangannya masih saja kosong.

—-Siang yang panas. Di rumah Yani sudah banyak orang yang datang. Kebanyakan dari mereka berpakaian serba hitam. Yang laki-laki, ada juga yang berpeci. Makanan-makanan kecil tersaji di piring-piring bagi para tamu yang duduk di luar. Sementara di dalam rumah, terdengar beberapa orang yang sedang mengaji. Rombongan anak-anak sekolah yang berseragam putih-abu-abu dari SMU Nusantara terlihat masuk ke dalam. Di antaranya, terdapat Yoyok. Sesampainya di dalam, Yoyok melihat jenazah ayah Yani yang meninggal karena kecelakaan. Ada hati yang membuncah ketika melihat jenazah itu. Sementara di sebelah jenazah itu, Yani duduk bersimpuh dengan mata yang sembap. Air matanya seolah-olah tak pernah kering. Selalu saja ada yang menggenang di pelupuk matanya. Dan ketika Yani melihatnya, Yoyok terpana sesaat. Ia pun kemudian menangkupkan kedua tangannya di dada sebagai tanda berbela sungkawa.[]

Hikmah: Dalam setiap kehidupan selalu ada saatnya di atas dan ada saatnya di bawah. Kita tidak pernah tahu kapan kita ada di atas dan kapan ada di bawah. Oleh karena itu, berbijaklah dalam berkehidupan sosial. Termasuk memaafkan orang yang pernah menyakiti kita.

Bang Aswi berpartisipasi dalam ‘Saweran Kecebong 3 Warna’
yang didalangi oleh “Jeng Soes-Jeng Dewi-Jeng Nia
dan disponsori oleh “Jeng Anggie, Desa Boneka, Kios108

About these ads

9 Responses to "Berbela Sungkawa"

Setuju banget BAng sama Hikmahnya..
Namanya orang kadang suka lupa diri..

Sukses ya ngontesnya..

*kemaren kemana ga dateng kopdar,di tungguin ampe sore*

>> Tapi jangan lupa terus ya, Nchie ^_^ Hatur nuhun …
Iya, gak bisa karena satu dan lain hal. Apa coba? Hehehehe …

nyanyiin lagu ayu ting ting makanya mba … kemana kemana … xixixi

>> Saat itu kayaknya belum ada Ayu Ting-Ting deh, ada juga Es Tong-tong ^_^

Jahat banget ya si Yani, coba satu sekolah sama aku, tak gamparin :D

Makasih lagi, Bang.. Sudah dicatat sebagai peserta :)

>> Ini kayaknya lebih jahat lagi deh karena mau namparin orang yang katanya jahat ^_^
Hatur nuhun …

wah parah banget sih tuh yang namanya yani .
mesti di eksekusi tuh orang kaya gitu .
izin share ya mas , soalnya aku suka sama ceritanya

>> Tapi hanya karena sifat orangnya gak kita sukai terus kita pun berhak menjahatinya, kan?
Oke deh, silakan …

saya baca dari wal sampe akhir,,jahat banget tuh yani,,kketrlaluan,,,jadi inget di film-film

>> Jadi bisa dibikin film ya cerita ini ^_^

keterlaluan tuh yani,,,tenyata di dunia nyata ada ya orang kaya gituh,,saya fikir cuman ada di sinetron,,hehe

>> Yang lebih jahat kayaknya juga ada, kok. Tinggal bagaimana kita menyikapinya, kan?

yani yang jahat….

>> Jangan menghujat ah …

Mak Cebong 3 dataaannngg :-)

Maap Bang tadi becaknya mogok jadi lama nyampenya hehehe

Hadooohhh jahat amat si Yani! Belom pernah dijambak rambutnya apa?? *emak2 esmosi hihihi*

Makasih Bang udah ngeramein Acaranya Mak Cebong. Salam untuk Tukang Sayur sama Pak Satpam kompleks yah Bang :-)

>> Selamat datang, Mak Cebong 3 ^_^
Tapi udah dibayar kan tukang becaknya? Bisi belum dibayar dan langsung kabur aja. Jangan ah, meni kasihan si Yani dijambak sama emak2. Gak ada urusan, Mak. Ini mah urusan anak muda. Hatur nuhun sudah diterima pendaftaran aye ^_^

hihhihi mak cebong pada emosi…tapi bener yachh…jahat banget si yani…merasa dirinya cantik dan pintar tp hatinya kayak mak lampir……untunglah yoyok sabar…kalo ngga udah digamparin tuch cewek heheheh……

terimakasih bang aswi atas partisipasinya…sdh tercatat sbg peserta

>> Bener-bener nih, Mak Cebong pada sewot semua ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Archives

Forum Lingkar Pena

Blog Stats

  • 242,153 hits
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 224 other followers

%d bloggers like this: