Mari Berbagi Bacaan …

Kalimat Pembuka dan Kalimat Penutup

Posted on: August 6, 2011

Salam, Anda akan sering mendengar saya membicarakan jenis-jenis keberanian yang disyaratkan oleh tugas penulisan. Salah satunya adalah keberanian yang dibutuhkan untuk melihat dengan dingin kalimat-kalimat atau paragraf-paragraf pada awal dan akhir cerita. Setelah melihatnya, Anda kadang memerlukan keberanian untuk menghapus kalimat atau paragraf itu.

Lihatlah paragraf pertama Anda yang menggambarkan malam itu dan pekuburan itu, yang berakhir dengan jeritan tersebut. Pertanyaan saya adalah: Apakah Anda benar-benar membutuhkan paragraf pertama ini? Akan tetapi, justru ini, demikian Anda akan berkata, yang memicu keseluruhan cerita. Cerita ini memang berkisah tentang jeritan yang agaknya datang dari pekuburan di tengah malam. Bagaimana bisa saya membuangnya? Mengapa saya harus membuangnya?

Yang saya sarankan pada tahap ini hanyalah, Anda melihat cerpen itu tanpa paragraf tersebut. Cerpen itu sekarang dimulai dengan “Amelia Grove duduk terhentak tegak di kursinya”. Ini merupakan awal yang jauh lebih menjanjikan. Saya langsung tertarik membacanya. Saya ingin tahu siapakah Amelia, mengapa dia duduk, dan apa yang menyebabkan dia duduk terhentak. Saya katakan ini menjanjikan, tetapi menurut saya masih bisa diperbaiki.

Bahan dalam paragraf pertama ini (saya sarankan dihapus saja) adalah bahan yang ada dalam pikiran Anda ketika Anda mulai menulis cerpen itu. Anda berpikir: “Saya akan merancang cerita ini di pekuburan pada tengah malam dan pepohonannnya menakutkan dan batu-batu nisannya menegakkan bulu roma, bayang-bayangnya mengerikan. Lalu terdengar jeritan melengking.” Anda bebas berpikir seperti ini, dan Anda mungkin perlu memikirkan hal ini, tetapi Anda tidak perlu menyampaikannya kepada pembaca sekaligus seperti yang telah Anda lakukan.

Saya mengingatkan siswa-siswa baru saya: kalau mereka mendapati diri mereka memulai kisah dengan menggambarkan adegan, mereka harus waspada. Mereka harus waspada kalau-kalau mereka membuat pembaca bosan dengan pemikiran pribadi si penulis—pemikiran mengenai cara memulai, cara mengganti persneling dari apa yang kita sebut dunia nyata ke dunia fiksi. Aturan pertama untuk menulis apa pun adalah jangan membosankan, dan perubahan persneling ini yang cukup menjemukan bagi pembaca.

Perhatikan beberapa kalimat pembuka dari empat penulis modern yang tidak membuang-buang waktu untuk mengganti persneling dengan cara itu.

Tak lama setelah ibuku meninggal, aku mengemasi barang-barangku dan pindah ke rumahnya di muara. (Georgio Savage)

Aku satu-satunya lelaki di antara sembilan wanita. (Gerald Murnane)

Aku bertemu dengan suamiku di bandara, dan di sana dia memberi tahu sesuatu yang menghilangkan senyum dari wajahku. (Helen Garner)

Sebelum perjalanan ini usai, aku berniat untuk berbicara kepada perempuan itu. (Elizabeth Jolley)

Saya memilih baris-baris pembuka di atas dari buku-buku yang saya ambil secara acak dari rak di sebelah meja saya. Kebetulan keempat penulis itu memulai cerita mereka dalam bentuk orang pertama. Dalam surat saya berikutnya, saya akan membahas apakah Anda menulis dalam bentuk orang pertama atau ketiga.

Sebelum meninggalkan pembedahan “Jeritan di Tengah Malam”, kita harus melihat paragraf akhir. Penulisannya lebih kuat, lebih sederhana, dan lebih percaya diri daripada paragraf pertama, seolah-olah cerita itu sendiri telah memberi Anda keberanian dan pelatihan. Akan tetapi, sebaiknya Anda mempertimbangkan untuk membuang kalimat akhir: “’Syukurlah!’ dia mendesah akhirnya sembari menutup pintu depan perlahan dan berdiri lama di kegelapan rumah.”

Di sini Anda menuliskan semacam arahan panggung yang tidak perlu. Cobalah mengakhiri cerita itu saat Anda mengatakan: “Mobil itu terlihat melambat sebentar. Kemudian dipacu kembali dan menghilang.”
Anda harus berani membuang bagian awal dan akhir cerpen Anda. Jika Anda cukup berani, cerpen Anda akan mulai berubah dan membaik.

Rumer Godden mengatakan: “Menjadi seorang penulis itu butuh keberanian besar.” Lihatlah bagian akhir cerita yang ditulis Eudora Welty, “A Visit of Charity”:

Marian tidak menjawab. Dia mendorong pintu yang berat itu dan keluar ke udara yang dingin dan lari menuruni anak tangga. Di bawah semak berduri itu dia berhenti. Dengan cepat, tanpa terlihat, dia mengambil apel merah yang disembunyikannya di sana.

Rambut kuningnya yang tersembunyi di bawah topi putih, jaket merah tuanya, serta lututnya yang telanjang, semua mengilat di bawah sinar matahari ketika dia berlari mengejar bus besar yang meluncur di jalan. “Tungguuu!” teriaknya. Seolah-olah ada perintah kerajaan, bus itu melambat dan berhenti. Dia melompat masuk dan menggigit apelnya dengan gigitan besar.[]

~ Diambil dari buku Menulis dengan Emosi (Panduan Empatik Mengarang Fiksi) karya Carmel Bird

Baca juga artikel yang berkaitan atau melihat daftar isi

About these ads

6 Responses to "Kalimat Pembuka dan Kalimat Penutup"

paragraf pertama, seringkali menjadi persoalan tersendiri bagi saya saat mencoba menulis. Terkadang membutuhkan lebih dari setengah total waktu yang saya butuhkan untuk sebuah tulisan.

Dan apa yang disebutkan bahwa penulis membutuhkan sebuah keberanian besar, saya rasa benar. Berani melakukan hal-hal yang tidak biasa, dimana kebiasaan itu terkadang menghilangkan selera pembaca sebelum menyentuh paragraf yang sejatinya sangat briliant.

Dalam setiap kali saya menulis, paragraf pertama selalu memegang peranan penting. Terkadang butuh beberapa hapus dan ganti.
namun jika paragraf ini telah terlewati biasanya paragraf2 selanjutnya akan menjadi lebih mudah.

>> Abi Sabila : Begitulah, Mas. Bahkan, inilah tantangan terberat bagi seorang penulis (pemula): memecahkan keheningan di paragraf pertama.

AAPANYA YANG PAYAH

Membuka dan menutup cerita bagi saya sama sulitnya.

>> maria_marpaung : Apa ya?
>> bocah petualang : Daripada tidak sama sekali … ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Archives

Forum Lingkar Pena

Blog Stats

  • 246,154 hits
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 227 other followers

%d bloggers like this: