Mari Berbagi Bacaan …

Kata Sifat dan Kata Keterangan

Posted on: June 7, 2011

Salam, mari kita bahas kalimat pertama cerpen Anda, “Jeritan di Tengah Malam”.

Sinar bulan keperakan menerobos naungan hijau tebal yang terbentuk dari ranting pepohonan jati tua dan dengan lembut menotoli monumen marmer yang seabad umurnya itu, yang berdiri dengan sedih dan terbuang di sudut terpencil pekuburan sunyi.

Anda menulis kalimat tersebut karena Anda ingin menata adegan dan menciptakan suasana bagi cerpen yang akan Anda kisahkan. Anda berusaha melakukan apa yang dilakukan musik pada bagian pembuka sebuah film. Akan tetapi, kalimat Anda kekurangan vitalitas; ada yang menahan ia meraih kehidupan. Nyawa seluruh kisah sebenarnya terancam oleh kata sifat (keperakan, tebal, hijau, tua, seabad umurnya, sedih, terbuang, terpencil, sunyi). Kisah ini sudah berisiko sejak awal karena kata-kata sifat (adjektiva) itu mengambil alih kendali tulisan, mengaburkan pandangan Anda dari apa yang ingin Anda uraikan.

Kata sifat layaknya api, kecil jadi teman, besar jadi lawan. Pelajarilah penulis seperti Vladimir Nabokov dan Iris Murdoch. Keduanya luar biasa dalam mengendalikan kata sifat:

Sesampainya di jendela, orang itu terhenti oleh nyala api panjang yang berujung lembayung dengan gerakan anggun tangannya yang bersarung. (Nabokov, Transparent Things)

Di atas, siluet langit-langit yang rapi dan siluet pepohonan yang bergerombol menjadi pembatas langit yang gelap kebiruan. Di sana, bulatan redup itu, yang seluruh ekornya kini tak terlihat, melayang naik. (Murdoch, The Black Prince)

Dari mana kata sifat itu muncul? Anda meminjamnya. Anda mengambilnya dari suatu tempat yang sudah terlupakan, lalu menempelkannya ke pekuburan dalam cerita Anda untuk mengelabui pembaca, agar mereka menyangka Anda sedang memberikan sesuatu yang Anda ingat, sesuatu yang Anda ketahui. Pembaca itu cukup tajam dan mereka membaca kata-kata sifat Anda sebagai pertanda bahwa Anda hanya berpura-pura pernah melihat adegan seperti itu, dan sebenarnya malah berpura-pura pernah mengimajinasikan adegan seperti itu. Dengan kata lain, kata-kata sifat dalam kalimat pertama Anda memperingatkan pembaca bahwa Anda tidak dapat dipercaya sebagai penutur kisah.

Kalau Anda ingin memulai kisah itu di pekuburan (nanti akan kita bicarakan mengenai bijak-tidaknya memulai dengan cara ini, di tempat ini), karena Anda tidak begitu pandai mengimajinasikannya, sebaiknya Anda datang malam-malam ke pekuburan lalu menuliskan apa yang Anda lihat, dengar, rasakan. Untuk sementara, lihatlah kalimat tersebut tanpa kata sifat; alinea itu sudah tampak lebih kuat:

Sinar bulan menerobos naungan yang terbentuk dari ranting-ranting pohon jati dan menotoli monumen marmer yang berdiri di sudut pekuburan itu.

Anda lihat bahwa kata keterangan (adverbia) “dengan lembut” juga sudah dibuang dari kalimat itu. Kata keterangan kadang lebih berbahaya daripada kata sifat. Kata-kata yang tertinggal adalah kata-kata inti, yaitu kata-kata yang menyampaikan maksud Anda. Kata-kata ini sebagian besar terdiri atas kata benda (nomina) dan kata kerja (verba). Mereka bekerja sama dan membiarkan pembaca membayangkan detail yang terkandung dalam kata “keperakan”, “tua”, dan lain-lainnya.

Mungkin Anda mengira bahwa Andalah, sebagai penulis, yang harus melakukan semua pengimajinasian ini, dan bahwa pembaca harus mendapatkan setiap detail adegan dari kata-kata Anda. Pembaca fiksi senang melakukan sebagian imajinasi ini, dan mereka akan lebih mudah mempercayai dan meyakini Anda jika ada sebagian yang harus diimajinasikan. Yang cukup mengherankan, kekuatan fiksi tampaknya terkandung sama besarnya dalam apa yang disiratkan dan dalam apa yang disuratkan; sama besarnya dalam ruang antarkata dan dalam kata-kata itu sendiri.

Ketika saya membaca cerita dengan niat menilai atau memeriksanya, saya menempatkannya dalam skala A sampai D. Skala ini mudah dipahami siswa. Namun, ketika huruf-huruf ini diberlakukan terhadap karya fiksi, menurut saya A berarti hidup dan D berarti mati. (B nyaris hidup dan C nyaris mati). Prosa yang mati adalah prosa yang membosankan. Prosa jenis ini tidak meyakinkan dan tidak menarik, serta sering mengandung banyak kata sifat dan kata keterangan yang menempel seperti parasit dan meminum darahnya.

Kadang saya menyebut prosa yang kuat dan sederhana sebagai tulisan “es krim vanilla”. Sementara itu, prosa yang berlebihan, yang mengusung banyak kata keterangan dan kata sifat, adalah “es krim bertaburan coklat dan kacang”. Ambil contoh tulisan “es krim vanilla” yang ditulis Sherwood Anderson, lalu tulislah ulang dengan menyisipkan beberapa kata sifat dan kata keterangan.

Mary berjalan dengan menyibakkan rumput ilalang yang banyak ditutupi bunga, lalu menemukan sebuah batu untuk duduk. Batu itu telah terguling hingga bersandar pada sebatang pohon apel tua. Rumput ilalang hampir menutup dirinya dan dari jalanan hanya kepalanya yang terlihat. Sebuah pagar hijau memisahkan kebun buah-buahan itu dari lapangan di lereng bukit. Mary berniat untuk duduk di sebelah pohon sampai kegelapan merayap menutupi bumi dan berusaha memikirkan rencana masa depannya.

Dengan penambahan yang Anda lakukan, apa pengaruhnya pada sepenggal prosa di atas? Yang patut diperhatikan di sini adalah, kita tertarik pada pemandangan dan suasana ini karena keduanya mempengaruhi tokoh Mary. Selain itu, penggalan prosa ini membuat kita penasaran mengapa Mary berjalan menyibakkan rumput ilalang, dan apa yang akan terjadi dalam masa depannya.
Berikut ini sebait prosa yang berlebihan. Anda dipersilahkan mengulitinya dengan membuang kata-kata yang tidak perlu.

Air musim panas yang malas itu memantulkan tebing menjulang di kolam yang berwarna coklat seperti teh itu, dan dalam gua yang kecil dan rendah di dasar reruntuhan tebing itu, burung-burung kelabu muda berkumpul berdesak-desakan.

Sebagian kata sifat dalam kalimat di atas bisa dipertahankan. Pertimbangkan mana yang benar-benar berguna. Kalau dipilih dan ditempatkan dengan baik, kata sifat atau kata keterangan bisa memberikan pengaruh yang menakjubkan. Tugas penulis adalah mengendalikan kata-kata ini, memilih dan memutuskan kata mana yang hanya akan melemahkan. Hal menarik lain yang dapat dilakukan adalah menuliskan kembali kalimat tersebut dengan kata-kata sifat yang berbeda dari yang tadi digunakan.

Apabila Anda menulis fiksi, salah satu tujuan Anda adalah memberi pembaca pandangan yang segar, kesan yang baru tentang hal-hal biasa. Banyak kata benda yang biasanya ditempeli kata sifat tertentu. Kita biasa mendengar, “otot baja”, “tekad bulat”, “hujan lebat”, dan “mata berbinar”. Jika Anda mendapati diri Anda memakai salah satu kelompok kata ini, pelajari tulisan Anda dengan cermat sebelum Anda membiarkan kata sifat itu tetap di tempatnya. Demikian pula halnya dengan kehadiran kata keterangan. Misalnya saja “tersenyum dengan manis” dan “tidur dengan lelap”.

Sekarang bacalah cerpen Anda dari awal sampai akhir dan tandai semua kata keterangan dan kata sifat dengan pensil. Jangan gunakan benda lain pada tahapan ini kecuali pensil. Tantang setiap kata yang Anda tandai. Apakah kata itu berhak berada di sana? Kalau tidak, coretlah. Anda telah memulai proses menyunting dan menulis kembali cerpen Anda. Ini bukan saat menyedihkan, ini menggembirakan. Cerpen itu akan menjadi semakin hidup sejalan dengan Anda bekerja. Rebecca West pernah menulis ulang sebuah bab sampai dua puluh enam kali. Begitu pula Turgenev.[]

~ Diambil dari buku Menulis dengan Emosi:
Panduan Empatik Mengarang Fiksi
karya Carmel Bird

(Penerbit Kaifa, 2001)

About these ads

16 Responses to "Kata Sifat dan Kata Keterangan"

ya..ya..ya..

*manggut-manggut

Wah, dari sebuah kalaimat saja pembahasannya bisa panjang kek gini. Pantas saja dalam UN banyak yang jeblok nilai Bahasa Indonesianya

pelajarannya makin susaaah :(

mudah2 bisa memahaminya….. *ngelap kringet…. :D

wah ternyata menulis cerpen dgn baik dan benar itu sangat sulit yachhhh……..

Subhanallah!

Bermanfaat sekali! Jadi pengin nyari bukunya.. :)

harus pelan-pelan mengikuti pelajarannya nih bang.

Terimakasih info bermanfaat. salam kenal..

bang aswi….peraih nilai UN tertinggi aja punya nilai Bahasa Indonesia yang paling rendah diantara pelajaran lainnya. Memang Bahasa Indonesia itu pelajaran yang tidak mudah….kalau mau ngajarin anak2 aja…mesti bekerja keras baca soalnya terlebih dahulu…

>> bundamahes : Jadi, sudah mengerti?
>> alamendah : Kalau dipelajari tentu akan mudah … ^_^
>> Mama Cal-Vin : Masa sih?
>> Mabruri Sirampog : Menyodorkan bantuan untuk menjemurkan lap bekas keringat tadi …
>> nia/mama ina : Tidak kok, tergantung pembiasaan.
>> Arief Rakhman : Hayuuu … ke toko buku.
>> ysalma : Cepet-cepet juga gak papa kok ^_^
>> Lirik Lagu : Salam kenal kembali.

wah…susahnya… :D
salam

Errr….nilai bahasa Indonesia Orin waktu kuliah malah C bang :(

>> tunsa : Gak ada yang susah kok kalau mau dipelajari …
>> Orin : Yang penting kan lulus hehehehe …

blum puas krena kata-kta hnya sdikit :)

Bang aswi saya plajar bru d’blog ini ._.v
mau tanya s’bnarny kata2 kiasan it perlu gak? Krn saya krg mudeng kalo bca s’buah crta yg byk memakai kata2 kiasan s’prti cntoh plg awal ==”

>> arsy : Belajar itu memang tidak instan ^_^
>> chanyb : Perlu tidaknya sebuah kiasan tergantung dari kalimat dan pesan yang ingin kita sampaikan. Salam ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Archives

Forum Lingkar Pena

Blog Stats

  • 248,813 hits
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 231 other followers

%d bloggers like this: