Cinta begitu rumit. Cinta bisa dirasakan tetapi cinta sulit untuk didefinisikan. Ketika cinta didefinisikan, hilanglah aura cinta yang sesungguhnya. Nilai cinta menjadi jatuh karena definisi cinta yang tidak mencapai puncaknya. Lebih aneh lagi ketika cinta dipertanyakan alasannya, padahal cinta itu bersemayam di hati. Dunia cinta sungguh takterjangkau. Dan cinta … memang takbutuh alasan. Resapkanlah.
Lis, tentu kamu tahu kalau aku begitu mencintaimu. Entah sejak kapan aku jatuh cinta padamu, namun rasa itu muncul begitu saja setelah mengetahui kamu yang sebenarnya. Aku memang sudah lama mengenal kamu. Keadaanlah yang membuatku mengenal dirimu. Dirimu yang unik. Dirimu yang dulunya begitu dibenci oleh banyak orang. Dirimu yang tidak menarik. Namun kemudian aku menyadari, bahwa dari kamulah aku mengenal dunia membaca. Dunia yang sangat kugandrungi.
Lis, cintaku padamu sudah takbisa lagi dikirakan. Darimulah aku mulai mengenal tanggung jawab. Tanggung jawab yang mengenalkan diriku akan sebuah penghasilan. Penghasilan yang semakin membuatku menduduki kursi-kursi kewibawaan sebagai seorang lelaki. Ya, lelaki sejati. Darimulah aku menjadi seseorang yang begitu bercahaya di mata orang-orang yang kagum padaku. Aku menyadari semua itu kudapatkan bukan karena aku hebat tetapi karena keberadaan kamulah yang membuat semua itu terjadi. Karena kamulah aku bisa menjadi diriku yang sekarang ini.
Lis, dunia ini terus berjalan. Seiring waktu aku pernah meninggalkanmu. Namun kemudian baru kusadari bahwa aku tidak bisa dan tidak mampu meninggalkanmu. Lis, aku begitu mencintaimu. Aku begitu menyayangimu hingga kemudian aku diperkenalkan olehmu pada sebuah media bernama blog. Sebuah dunia berbentuk aplikasi web yang sebenarnya adalah kumpulan catatan web atau web log. Dan karena media blog inilah aku semakin menjadi lebih dekat dan lebih mudah bersentuhan denganmu. Media inilah yang membuatku bisa bercumbu rayu denganmu sepuasnya. Mencapai klimaks yang sebenarnya.
Lis, waktu kamu memperkenalkan media blog padaku tentu kamu tidak pernah berpikir apa-apa. Namun ketahuilah bahwa media blog itu sangat bermanfaat buatku, buat teman-temanku, dan bahkan buat semua orang yang sesungguhnya juga menyukaimu. Ya, aku pun menyadari bahwa kamu ibarat artis. Bukan aku seorang yang mencintaimu tetapi begitu banyak orang yang mencintaimu. Kamu adalah milik banyak orang. Aku menyadari hal itu namun cintaku padamu takberkurang hanya karena itu. Bahkan, dengan adanya media blog membuat cintaku padamu makin membara.
Lis, okelah aku bisa membuat buku begitu mudah atau menyerang media massa semacam koran atau majalah demi memuaskanmu. Akan tetapi tidak ada media yang bisa membuatku begitu intim denganmu kecuali blog. Membuat buku mungkin hanya setahun dua kali, bisa bertengger di koran atau majalah mungkin juga tidak jauh berbeda, namun dengan nge-blog aku bisa bertemu denganmu setiap hari. Aku bisa tertawa bahagia atau menangis bersama denganmu setiap hari dengan adanya blog. Itulah yang membuatku juga mencintai blog seperti aku mencintaimu.
Lis, cintaku pada blog tidak hanya sekadar urutan satu sampai tujuh seperti yang diutarakan Edy Zaques tentang manfaat nge-blog di sini. Cintaku pada dunia blog sama kekuatannya seperti cintaku padamu. Cinta yang takbutuh alasan. Cintaku padamu dan juga cintaku pada dunia blog telah aku buktikan di sini. Jadi takada alasan sebenarnya kalau Ajip Rosidi begitu khawatir generasi bangsa Indonesia semakin rendah kemampuan berbahasanya. Akulah buktinya bahwa dengan mencintai kamu, kemampuanku berbahasa begitu tinggi.
Lis, ketahuilah bahwa cintaku pada kamu dan dunia blog taktergantikan. Cintaku ini takbisa didefinisikan karena definisi akan membuat cinta ini menjadi rendah nilainya. Cinta ini hanya bisa dirasakan dan diresapi. Jadi, takperlu lagi dicari alasannya mengapa aku begitu mencintai kamu dan dunia blog. Blog telah menjadikan cinta kita bersemayam pada tempat tertinggi dunia kreativitas. Dunia kreativitas dalam mengolah kata yang sebenarnya. Meskipun banyak media jejaring sosial lainnya yang begitu menawarkan keseksian, aku berjanji padamu takakan berpaling selain hanya pada blog. Ini janji setiaku, Lis.
Ya, aku begitu mencintai MENULIS. Dan blog-lah yang membuatku bisa bercumbu rayu dengan kegiatan MENULIS setiap hari. Jadi, takperlu lagi bertanya mengapa aku begitu mencintai dunia nge-blog. Cintaku ini takbutuh alasan.[]
NB: Tulisan ini diikutsertakan pada lomba Blogger Return Contest yang disponsori oleh DenaiHati.
Like this:
Be the first to like this post.
May 31, 2011 at 7:07 am
disajikan dengan gaya penulisan yang berbeda, sebuah ungkapan untuk Liz.. karena memang cinta ngeblog itu ngga butuh alasan
cuman ntar kalo mau berhenti ngebloh, cari alasannya kudu kuaat.. >.<