Mari Berbagi Bacaan …

Green School: Konsep Sekolah Masa Depan

Posted on: November 16, 2009

l-02_greenschoolHari libur tidak menyurutkan langkah Made Mangku Pastika untuk melakukan kegiatan kemasyarakatan. Minggu, 4 Oktober 2009 misalnya, Gubernur Bali ini melakukan kunjungan kerja ke Green School yang berlokasi di Banjar Saren, Desa Sibang Kaja, Abiansemal, Badung. Sekolah ini memang diresmikan olehnya pada Mei 2009 lalu.

John Hardy, pengusaha perak asal Kanada yang juga pendiri Yayasan Kulkul, pengelola sekolah ini, menyambut ramah kedatangan Gubernur beserta rombongan. Kepada Gubernur, John Hardy menjelaskan bahwa ide dasar pembangunan sekolah di atas areal seluas 8 hektar itu adalah untuk menerapkan ajaran Trihita Karana. Oleh karena itu, tidak ada bahan buatan pabrik atau zat kimia yang dipergunakan di sekolah ini. Merokok pun tidak diperkenankan.

Bahan-bahan bangunan dipilih hampir seluruhnya dari bambu. Meja, kursi, rak, dan lemari tempat menyimpan buku yang digunakan sehari-hari oleh anak didik semuanya terbuat dari bambu. Sedangkan atap bangunan dibuat dari ilalang. Melihat hal tersebut, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa memasuki sekolah ini seperti memasuki sebuah kompleks bangunan megah yang semuanya terbuat dari bambu dan ilalang dengan bentuk yang sangat indah dan khas.

Jalan setapak yang menghubungkan bangunan satu dengan lainnya tidak diaspal. Batu kali dan cadas dibiarkan apa adanya. Demikian juga ruang kelas, didesain sedemikian rupa sehingga anak didik menikmati pelajaran seperti belajar di alam terbuka. Tak ada sekat atau dinding beton seperti kebanyakan sekolah saat ini sehingga udara segar bebas mengalir. Oleh karena halaman sekolah sangat luas, Green School memanfaatkannya untuk bercocok tanam secara organik. Tidak ada traktor di sana, pun mereka tidak menggunakan pupuk dan pestisida kimia. Sawah dan ladang dikerjakan dengan cara membajak dengan tangan. Persis seperti petani Bali tempo dulu. Tanaman yang dibudidayakan juga asli tanaman lokal seperti singkong, ketela rambat, pisang, talas, kelapa, padi, dan sebagainya. Hasil bercocok tanam itu dipanen untuk dinikmati bersama oleh murid, guru, dan pengelola sekolah. Sisanya dijual di kantin sekolah sebagai makanan ringan organik. Teh dan kopi yang dijual juga tidak menggunakan gula putih, melainkan gula merah dari nira kelapa.

John Hardy menuturkan, Green School dibuka 1 September 2008. Saat ini memiliki 130 siswa dari kapasitas 700 orang. Jenjang pendidikan mulai Taman Bermain (Play Group), TK, SD, hingga SLTP. Kurikulum pendidikan dirancang berstandar internasional dengan bahasa pengantar Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Pengajar berasal dari luar dan dalam negeri dengan guru utama ekspatriat. Waktu belajar mulai jam 08.30 – 15.00 dan hari Sabtu libur. Dari 130 siswa saat ini, 18 orang di antaranya adalah siswa lokal. Siswa lokal ini dipilih dari anak-anak yang memiliki ketrampilan khusus seperti menari, melukis, atau lainnya. Mereka dibiayai dengan beasiswa yang sponsornya dicari pihak Yayasan. “Kami berharap, Bapak Gubernur membantu kami menyosialisasikan sekolah ini sehingga putra Bali yang memiliki kemampuan tidak perlu lagi bersekolah ke luar negeri,” kata John.

Sebenarnya apa yang dimaksud dengan Green School itu? Green School adalah konsep pendidikan yang digabungkan dengan konsep lingkungan sehingga akan menciptakan lingkungan yang sehat. Konsep hijau pada sebuah sekolah bukan lagi sebuah tren, tetapi sebuah metode yang menyediakan gaya hidup sehat, suasana yang nyaman, dan produktif mempelajari lingkungan sembari menyelamatkan energi, sumber daya alam, dan tentu saja uang. Green School menyediakan fasilitas yang ramah lingkungan, menyegarkan, menyehatkan, penyediaan transportasi alternatif, tempat rekreasi pilihan, dan kesempatan bagi para pelajarnya. Keuntungannya sudah jelas, yaitu mengurangi gas-gas berbahaya bagi atmosfer, meningkatkan kemampuan belajar para siswa, meningkatkan kesehatan para siswa seperti menghindarkan penyakit diabetes, asma, atau penyakit pernapasan lainnya, meningkatkan kepekaan sosial, dan lain-lain.

Lalu mengapa harus Green School? Tahun lalu adalah pelajaran hidup yang sangat berarti bagaimana krisis ekonomi begitu hebat menghantam seluruh dunia. Perubahan iklim yang sangat drastis adalah masalah global yang harus segera dicarikan penyelesaiannya. Hutan-hutan belantara susah semakin berkurang, sementara penggunaan kandungan alam seperti batu bara dan minyak bumi semakin memperparah kandungan atmosfer planet Bumi. Anak-anak kita akan memasuki dunia yang sangat berbeda dengan kita. Menteri Pendidikan Amerika, Richard Riley, memperkirakan bahwa sepuluh pekerjaan yang paling dicari pada 2010 adalah pekerjaan yang belum ada pada 2004. Menggunakan sistem pendidikan kemarin untuk mengajarkan anak-anak sekarang untuk pekerjaan masa depan jelas tidaklah memberikan mereka kesempatan.

Green School akan memaksimalkan potensi anak-anak sehingga mereka bisa berpikir secara kreatif bagaimana menciptakan lingkungan yang optimum. Isu lingkungan adalah isu terbesar saat ini. Semua kurikulum bisa disinergikan dengan masalah lingkungan, dari matematika dan ilmu pasti sampai bahasa Inggris dan kesenian. Pendidikan lingkungan tidak hanya mengajarkan masalah lingkungan semata di dalam kelas, tetapi juga memberikan keberanian pada siswa untuk mengeksplorasi lingkugan yang ada di luar kelas. Perlu diketahui bahwa 40% dari peserta ‘Science Fair‘ selalu berhubungan dengan masalah lingkungan dan 50% beasiswa yang dikeluarkan oleh perusahaan nasional ditujukan pada masalah lingkungan. Komite Penasihat The National Science Foundation untuk Penelitian Lingkungan dan Pendidikan pernah menuliskan sebuah laporan pada 2003, “In the coming decades, the public will more frequently be called upon to understand complex environmental issues, assess risk, evaluate proposed environmental plans and understand how individual decisions affect the environment at local and global scales. Creating a scientifically informed citizenry requires a concerted, systematic approach to environmental education.”[]

About these ads

14 Responses to "Green School: Konsep Sekolah Masa Depan"

hmm, gagasan yang menarik tentang pengembangan model sekolah seperti ini. Tapi, kadang bertanya kalau model sekolah seperti ini adalah kebijakan umum dari pemerintah kita pasti biaya pendidikannya tidak akan mahal dan konsep pengajarannya meliputi seluruh wilayah Indonesia :)
mimpi yang besar yah, moga suatu saat bukan hanya mimpi.

>> fety : amiiiin….

bang ada alamat websitenya gak? mau tau soal uang sekolahnya..pastinya mahal deh..

>> boyin : saya sendiri malah kelupaan nge-link sekolah yang bersangkutan. alamatnya: http://www.greenschool.org/

weleh sangar nih enak nek skul gt yah

>> mbah gendeng : pasti wuenak, apalagi ramah lingkungan dan makan yang serba alami huehehehe, tapi kenapa harus satu dan itu di Bali?

Wah, jadi ingin melihat dengan mata kepala sendiri. Paling tidak bisa fresh kalau melihat dan berada di bawa atapnya untuk sementara.

>> NN : harus, tapi ya itu, kudu datang ke Bali.

Assalamu’alaikum,
Sangat menarik, segera meluncur ke websitenya.

>> dewi : insya Allah sangat menarik….

sekolah yang memperkenalkan issue lingkungan dengan kurikulum internasional,,, hebat2.. apakah semua mata pelajaran bisa tercover dg bae dengan menghub lingkungan? pasti kerja keras yg sangat luar biasa yyaaa :)

>> miss asti : Insya Allah. Semua yang baik pasti memerlukan proses yang berat. Tinggal bagaimana menyiasatinya ^_^

Saya salut ada orang yang idealis dan sangat peduli dengan lingkungan dan pendidikan. Tapi apakah pendidikan yang berkonsep trihita karana itu juga bisa dinikmati oleh semua golongan? terutama untuk anak anak dari golongan bawah, semoga saja, karena seperti yang saya lihat betapa banyak anak anak dari golongan bawah tidak mendapatkan kesempatan mendapatkan pendidikan yang bagus, saya berharap pihak pengelola sekolah, memberi kesempatan kepada anak anak lokal terutama yang tidak mampu bisa menikmati sekolah yang yang berkualitas, agar nantinya mereka bisa bersaing di dunia kerja, mampu mandiri, gigih dan tentunya bisa berprestasi. seandainya saja banyak orang yang bisa melakukan hal yang sama, cinta lingkungan, cinta anak anak, peduli pendidikan dan ikut mencerdaskan anak bangsa tidak peduli dari ras dan golongan mana. Amiin, Insya ALLOH, segala kebaikan dan amalnyanya akan mendapatkan balasan yang berlipat. Amiin.

>> Faizah : Amiiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Archives

Forum Lingkar Pena

Blog Stats

  • 248,612 hits
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 231 other followers

%d bloggers like this: